BAB 9

1183 Kata
Arka merasa sangat terburu-buru pagi itu. Saat ia sedang bersiap menuju kampus, ponselnya berdering dan nama papanya muncul di layar. Sang papa memintanya untuk segera datang ke kantor. Sejujurnya, Arka merasa enggan memenuhi permintaan tersebut. Ada perasaan tidak nyaman yang selalu muncul setiap kali ia harus berhadapan dengan orang tuanya, apalagi jika harus bertemu di kantor, tempat yang sejak dulu tidak pernah ia sukai. Langkah kakinya yang terlalu cepat membuatnya kurang memperhatikan situasi di sekitar. Ia berjalan setengah berlari melewati lobi gedung yang megah itu. Tepat di dekat pintu masuk lobi, ia hampir saja menabrak seorang gadis yang baru hendak melangkah masuk. Arka bergerak sigap dengan refleks yang cukup baik untuk menghindar agar tubuh mereka tidak bentrok secara langsung. Namun, meskipun ia berhasil menghindari tabrakan fisik, barang-barang yang dibawa gadis itu tetap terkena dampaknya. Tas dan tumpukan kertas yang ia dekap terlepas dari pelukannya, lalu berhamburan jatuh di atas karpet lobi yang tebal. Arka mematung sejenak, menatap kekacauan yang baru saja ia buat di tengah ketergesaannya. “Aduh, sorry. Aku nggak lihat.” Ia menunduk dan memunguti buku-buku yang bertebaran. “Nggak masalah, aku juga yang salah. Terlalu buru-buru,” ucap gadis itu. Selesai memunguti, Arka meneggakkan tubuh dan menyerahkan buku pada gadis di depannya. “Aku yang minta maaf. Kamu nggak luka ‘kan?” Mereka bertatapan dan seulas senyum merekah dari bibir gadis itu. “Nggak, cuma kaget aja.” Keduanya berdiri berhadapan sambil bertukar senyum malu. Karena berdiri di depan pintu, menghalangi orang-orang yang hendak keluar masuk. Mereka berpisah setelah seorang petugas keamanan menegur. “Eh, boleh tahu namamu?” tanya si gadis pada Arka yang hendak melangkah. “Arka, itu namaku.” “Nama kita mirip, aku Arni!” Arka hanya melambaikan tangan dengan gerakan singkat tanpa menghentikan langkahnya. Ia terus berjalan tergesa-gesa menuju pintu keluar, sama sekali tidak menoleh ke belakang untuk sekadar memastikan keadaan gadis yang baru saja berpapasan dengannya. Arka tidak menyadari bahwa Arni sedang berdiri terpaku dengan wajah yang tampak berbinar. Ada rona ketertarikan yang jelas terpancar dari ekspresi gadis itu saat menatap punggung Arka yang kian menjauh. Arni terus memperhatikan kepergian pemuda itu sambil menyunggingkan senyum kecil yang tertahan, merasa sangat terkesan dengan pertemuan singkat mereka yang tidak sengaja tersebut. Setibanya di depan ruang kerja papanya, Arka segera melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya. Ia mengernyitkan dahi, tidak mampu menyembunyikan rasa kesal saat menatap pintu kayu besar yang masih tertutup rapat di hadapannya. Sudah hampir tiga puluh menit ia duduk menunggu di area lobi lantai atas, tetapi sang papa sama sekali belum memanggilnya masuk atau memberikan kabar melalui sekretarisnya. Arka menghela napas Panjang, jika bukan karena papanya menekankan bahwa ada hal yang sangat penting untuk dibicarakan, ia pasti sudah memilih untuk mengabaikan panggilan itu dan tetap berada di kampus. Penundaan ini benar-benar mengacaukan jadwalnya. Harusnya, sore ini Arka sudah duduk tenang di perpustakaan atau kafe untuk menyelesaikan tugas dari dosen pembimbingnya. Ada beberapa bab dalam draf skripsinya yang membutuhkan revisi mendalam agar bisa segera disetujui. Namun, karena panggilan mendadak yang seolah tidak bisa ditunda ini, ia terpaksa meminggirkan kewajiban akademisnya. Rasa jenuh mulai melanda saat ia kembali menyandarkan punggung ke kursi, merasa waktunya terbuang sia-sia hanya untuk menunggu sesuatu yang belum pasti di tempat yang paling tidak ia sukai ini. Pintu terbuka, dari dalam keluar seorang wanita awal tiga puluhan dengan seragam hitam. Wanita itu tersenyum ke arah Arka dan berucap sopan. “Kak Arka, sudah ditunggu Bapak di dalam.” Arka bangkit dari kursi dan mengangguk. “Makasih, Kak Tina.” “Sama-sama, silakan.” Ia melewati Tina yang merupakan sekretaris sang papa dan mendengar pintu menutup di belakangnya. Mengedarkan pandangan, matanya tertumbuk pada tumpukan dokumen di atas meja dengan sang papa terlihat serius menatap layar komputer. “Kamu sidang hari ini?” Haribawa bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar komputer. “Iya, sidang kedua.” Arka mengenyakkan diri di depan papanya. “Lalu?” “Ada beberapa bagian yang harus direvisi.” Haribawa mengalihkan tatapannya ke arah anak laki-lakinya. Mencopot kacamata, ia mengamati Arka yang duduk di hadapannya. “Kamu betah magang di pabrik?” Arka mengangguk. “Betah, sejauh ini aku banyak belajar, Pa.” “Nggak mau pindah ke kantor?” “Nggak, aku lebih suka di lapangan. Bereksperimen sama bahan-bahan. Mungkin nanti suatu saat akan pindah ke kantor.” Haribawa mengangguk kecil, menutup dokumen di depannya. “Kamu nggak minat untuk bekerja di tempat lain? Jadi PNS atau kuliah S2 ke luar negeri? Biasanya anak-anak muda punya mimpi seperti itu.” “Nggak, Pa. Aku ingin kerja di pabrik.” “Kenapa?” tanya Haribawa tajam. “Kamu benar berniat dengan pabrik atau ada hal lain, Arka?” Menelengkan kepala, Arka menatap papanya sambil tersenyum tipis. “Maksud Papa apa?” “Kamu jangan pura-pura nggak ngerti dengan perkataan papa.” Haribawa mengetuk meja. “Kamu pikir papa nggak tahu niatmu?” “Coba jelaskan, apa niatku, Pa? Sepertinya aku kurang paham di sini.” Keduanya bertukar pandang dengan aroma permusuhan terlintas samar di antara napas yang berembus. Arka tidak berkedip menatap sang papa. Ia tahu, dirinya sedang diuji dan tidak akan gentar karenanya. “Kamu jangan pura-pura bodoh! Kamu sengaja datang bekerja di sini bukan karena kamu suka! Tapi kamu ingin ngrecokin aku!” Arka mengangkat sebelah alis. “Ngercokin itu bagaimana, Papa. Setahuku, pabrik kaca ini adalah milik keluarga almarhumah Mama. Dan, beliau sebelum meninggal menitipkan amanat agar aku kerja di sini. Jadi, apa itu ngrecokin?” Tanpa disangka, Heribawa menggebrak meja. Matanya melotot tidak suka dan menuding anak laki-laki sulungnya. “Mana ada bukti kalau mamamu yang meminta itu?” “Oh, jelas Papa nggak tahu masalah itu. Karena saat Mama sakit-sakitan dan sekarat, Papa sedang sibuk dengan istri muda!” “Kamu, be—beraninya kurang ajar sama orang tua?” tuding Heribawa dengan wajah merah padam karena amarah. “Jangan emosi, Pa. Santai saja, aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Papa sudah bahagia dengan istri muda dan dua anak Papa yang lain. Tapi, Papa harus ingat kalau ini adalah perusahaan mamaku. Dan, aku berhak bekerja di sini!” “Kamu nggak percaya kalau papa bisa mengelola pabrik dengan baik? Bisa dibuktikan jika keuntungan menjadi berkali-kali lipat daripada dulu dipegang mamamu.” “Wah, aku kurang tahu itu.” Arka berucap sambil mengangkat bahu. “Selama magang di pabrik, aku baru mempelajari masalah produk, dan bahan baku. Tapi, untuk laporan penjualan dan lainnya, aku akan belajar segera setelah aku sarjana.” “Kamu benar-benar anak tak tahu diuntung!” “Terima kasih, aku anggap itu pujian. Demi almarhumah Mama.” “b******k! Kurang Ajar! Jangan datang lagi kemari. Aku nggak sudi lihat kamu!” Keduanya berpisah dengan masing-masing memendam kemarahan. Arka bahkan merasa dadanya sesak karena emosi. Bukan hanya rasa kecewa pada sang papa tapi juga rasa sedih. Ia ingat betul, bagaimana saat mamanya sakit sang papa malah asyik dengan istri muda. Dengan alasan mengurus perusahaan, Heribawa jarang menjenguk istrinya. Bahkan saat sang istri tua meninggal, dengan enteng mentitipkan Arka pada mertuanya. Di bawah asuhan sang nenek, Arka tumbuh menjadi pemuda tampan dan tangguh. Kini, sudah saatnya untuk mengambil alih apa yang menjadi miliknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN