Kanya menatap dokumen di depannya tanpa berkedip. Tertera dengan jelas namanya sebagai tergugat dan Sasha sebagai penggugat. Rupanya, apa yang dikatakan Raphael menjadi kenyataan. Jika Sasha mengajukan banding. Membayangkan akan menghadapi masa persidangan dengan dana besar yang harus ia kucurkan, membuat dadanya berdebar tak karuan.
Mendesah gelisah, ia menutup map dan menelungkup di atasnya. Ia perlu berpikir jernih, karena masalah ini mumukul perasaannya. Tadinya, ia berpikir Sasha hanya memberi ancaman main-main saat mengatakan akan mengajukan banding. Rupanya, wanita itu membuktikan perkataannya.
Ia mendongak saat pintu kantornya diketuk pelan, lalu membuka. Salah seorang karyawannya masuk dan berdiri di depannya sambil meremas tangan.
“Ada apa, Dewi?” tanyanya pelan.
“Kak, ki—kita ada masalah dikit,” jawab Dewi gugup.
“Masalah apa? Distribusi atau penjualan?”
Dewi menggeleng lemah. “Bukan itu, tapi nama brand kita. Coba kakak buka i********: dan lihat akun Rachelia. Dia mengatakan sesuatu tentang produk kita.”
Penasaran, Kanya meraih ponsel di atas meja dan membuka aplikasi i********:. Ia mencari akun Rachelia dan terdapat video yang diposting satu jam yang lalu. la mengencangkan volume ponsel dan memutar video itu.
Kupingnya panas, dan hatinya diliputi kemarahan saat mendengar perkataan Rachelia di video itu. Sang selebgram dengan lantang mengatakan, menolak beberapa brand kecantikan yang berusaha menggaetnya menjadi brand ambassador atau endorsmen karena menganggap jika brand itu tidak layak pakai. Memang, Rachelia tidak menyebut dengan gamblang merek skincare yang dimaksud.
Namun, memberikan inisial yang jelas-jelas merujuk pada produk Kanya. Sekali klik, orang-orang akan tahu brand yang dimaksud.
Menahan geram, Kanya mematikan video dan menatap pegawainya. “Ada imbasnya pada produk kita?” tanyanya was-was.
Dewi mengangguk. “Banyak DM, Inbox, dan pesan masuk hanya untuk menanyakan tentang pernyataan Rachelia. Lalu, banyak juga yang sudah order hari ini dibatalkan. Alasan mereka, ingin mencari tahu tentang kebenaran ucapan Rachelia.”
Kanya memejam, kepalanya terasa sakit berdenyut-denyut. Belum selesai masalah gugatan Sasha, kini muncul masalah baru.
“Mungkin, Kakak belum tahu kabar terbaru.”
Kanya membuka mata. “Apa lebih buruk dari ini?”
Dewi mengangguk. “Bisa jadi.”
“Ada apa?”
Untuk sesaat Dewi terdiam, berusaha menghela napas panjang lalu menjawab dengan bibir gemetar.
“Rachelia menerima endorsmen dari Sasha.”
Rasanya, bagai terjatuh dalam jurang yang dalam dan disantap ular besar. Kanya mendadak hilang harapan. Berita yang baru saja ia dengan dari Dewi membuat semangatnya merosot dalam titik terendah.
Ia merasa, tak sanggup lagi menerima berbagai cobaan dan ujian. Jika bukan demi masa lalu dan gengsinya, ingin rasanya ia menyerah pada keadaan. Dan lari sejauh mungkin untuk menenangkan diri. Akan tetapi, ia sadar tanggung jawabnya sebagai pimpinan di perusahaan kecil miliknya dan ada nasib beberapa karyawan yang menjadi pertaruhannya.
Kanya mengakhiri kerja hari ini dengan perasaan kacau. Ia merokok tiada henti di dalam mobil, sepanjang jalan menuju apartemen. Ia tidak peduli dengan tatapan aneh pengendara lain yang melihatnya saat lampu merah. Ia perlu menenangkan diri dan rokok adalah teman terbaik.
Ia tidak ingat, kapan mulai memiliki rasa ketergantungan pada tembakau. Ia tidak ada keinginan untuk menenggelamkan kesedihan dalam alkohol, maka rokok adalah pilihan yang tepat untuknya. Kecuali satu hal lagi. Mengingat tentang satu hal yang lain, otaknya tertuju pada Arka. Ia melihat jam di layar ponsel dan berharap Arka sudah kembali dari kampus.
Dengan sedikit terburu-buru, Kanya memarkir mobil dan masuk ke dalam lift. Ia mendesah tidak sabar saat banyak orang ikut naik dan lift harus berhenti di setiap lantai. Saat menginjakkan kaki di lantai sepuluh, ia melangkah tegap menuju unit Arka dan memencet bel.
Pada dering kelima, pintu terbuka. Sosok Arka muncul dalam keadaan setengah tidur. Terlihat dari rambutnya yang acak-acakan dan tidak memakai baju atas. Tubuh kekar pemuda itu hanya berbalut celana pendek bahan katun.
“Kak, ada apa?” tanya Arka serak.
Kanya mengalungkan lengannya ke leher Arka dan menjatuhkan dirinya dalam pelukan pemuda itu.
“Yuk, kita ML.”
Hening, Arka yang kaget dengan pelukan Kanya hanya terpana bingung.
“Arka, kamu dengar omonganku?”
“Eh, maaf. Apa tadi, Kak?” tanya Arka tergagap.
“Yuk, kita ML!” ajak Kanya tegas.
Arka menjauhkan wajah Kanya dari bahunya. Menatap bola mata wanita itu yang bersinar terang. Sama sekali tidak ada keraguan saat mengucapkan ajakan bercinta padanya. Tidak ingin berpikir lebih lama dan membuat Kanya berubah pikiran, ia memagut bibir wanita itu dan mengisapnya kuat.
Sinyal persetujuan itu disambut cepat oleh Kanya; ia menggigit bibir bawahnya erat saat mendengar suara pintu yang ditutup rapat oleh Arka. Tas di tangannya jatuh begitu saja ke lantai tanpa ada yang memedulikannya lagi. Keduanya segera saling merapat, saling mengecup dan melumat bibir dengan intensitas yang sangat tinggi.
Jemari Kanya mulai menelusuri permukaan kulit Arka yang tanpa busana, merasakan tekstur otot pemuda itu yang mengeras di bawah sentuhannya. Ia melenguh panjang saat merasakan telapak tangan Arka meremas dadanya dengan penuh damba. Entah siapa yang memulainya, pakaian yang Kanya kenakan satu per satu terlepas dan menumpuk di atas lantai, hingga kini tubuhnya hanya menyisakan bra dan celana dalam di hadapan Arka.
“Kamu cantik, Kak. Sexy sekali,” desah Arka saat berusaha melepas kait bra yang dipakai Kanya.
“Benarkah?” tanya Kanya dengan wajah memerah.
“Iya, semua yang ada padamu begitu indah. Ini,” ucap Arka sambil menunduk dan mengulum mesra puncak d**a Kanya. Serta merta terdengar lenguhan dari mulut wanita itu. “Lalu ini.” Ia meneruskan aksinya dan kini mencium pundak, leher, dan perut Kanya.
Tubuh mereka berdua jatuh bersamaan ke atas sofa, saling menekan satu sama lain tanpa celah sedikit pun. Suara napas yang memburu terdengar bersahutan, sesekali teredam oleh lumatan bibir mereka yang kian dalam dan menuntut. Kanya membiarkan dirinya sepenuhnya pasrah saat direbahkan, sementara Arka mulai menghujani seluruh permukaan kulit tubuhnya dengan kecupan-kecupan panas yang tak terhenti.
Kanya seketika mengerang panjang ketika merasakan jemari pemuda itu menyelinap masuk ke dalam celana dalamnya, mulai membelai area intimnya dengan sentuhan yang sangat berani. Alih-alih menolak, Kanya justru merasakan keinginan yang jauh lebih besar dari sebelumnya. Ia pun secara sadar meregangkan kedua pahanya dengan lebar, memberikan akses sepenuhnya bagi Arka untuk melakukan apa pun yang ia inginkan.
“Kamu basah, Kak,” ucap Arka serak. Sementara jarinya menjelajah bagian intim dari tubuh Kanya.
“Kamu menegang,” jawab Kanya sambil mengelus dan meremas kejantanan Arka. Gerakannya membuat mata pemuda itu mendelik ke atas dengan napas tersengal.
“Se—sebelum kita lanjutkan. Aku ingin bilang sesuatu,” bisik Arka di telinga Kanya.
Kanya mendesah. “Ada apa?”
Arka tidak langsung menjawab pertanyaan wanita dalam pelukannya. Kini, mulutnya sibuk menjelajah puncak d**a Kanya dengan jari masih berada di area intim.
“Arka, ada apa?” rintih Kanya menahan gairah.
“Ini memalukan sebenarnya, Kak. Tapi, kamu harus tahu.”
“Yah?”
“Aku belum pernah melakukan sebelumnya.”
Kanya membuka mata dan menatap Arka lekat-lekat. Ia berusaha mengenyahkan gairah yang menggantung di kepala.
“Maksudmu, kamu perjaka?
Arka mengangguk malu. “Bisa dikatakan begitu. Jangan kaget kalau aku kurang maksimal. Tapi, aku sudah menonton banyak film, dan akan berusaha untuk membuatmu bahagia.”
Tangan Kanya terulur untuk menangkup wajah Arka. Senyum terukir di mulutnya. Mau tidak mau ia merasa takjub, di zaman seperti sekarang masih ada pemuda yang perjaka. Apalagi, secara fisik Arka bukanlah orang yang jelak bahkan terhitung sangat tampan. Pengakuan pemuda itu membuatnya tidak bisa menyembunyikan tawa kaget.
“Kamu mau kita berhenti sekarang?” tanyanya lembut. “Takut kamu belum siap.”
“Enak saja! Aku mau sekarang. Siapa bilang aku belum siap? Bahkan dari pertama bertemu, aku sudah memendam keinginan untuk b******u denganmu.”
Tanpa memberikan kesempatan bagi Kanya untuk bersuara, Arka langsung membungkam bibir wanita itu dengan lumatan yang sangat dalam. Keduanya segera saling merangkul erat, membiarkan seluruh permukaan kulit mereka menempel tanpa jarak sedikit pun. Ketika gairah sudah benar-benar menguasai pikiran mereka, tangan Arka bergerak dengan sangat sigap untuk melucuti celana dalam Kanya, lalu dengan cepat menanggalkan celananya sendiri hingga jatuh ke lantai.
Kini, Arka berdiri sepenuhnya tanpa busana di hadapan Kanya yang juga sudah terbuka. Ia terdiam sejenak, menatap setiap lekuk tubuh Kanya yang terpampang nyata di depannya. Arka sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa kagum yang luar biasa saat melihat keindahan fisik wanita itu secara langsung, membuat napasnya terasa kian berat dan jantungnya berdegup jauh lebih kencang dari sebelumnya.
“Kamu cantik sekali, Kak,” ucapnya serak penuh gairah.
“Kamu sudah mengucapkan itu lebih dari sepuluh kali.”
“Bodo amat! Jika perlu aku akan mengucapkannya berkali-kali sampai kamu bosan.”
Kanya menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan undangan, perlahan meregangkan kedua pahanya saat merasakan berat tubuh Arka mulai menindihnya dengan hangat. Ia menyambut bibir pemuda itu dalam sebuah cumbuan yang dalam, membiarkan dirinya hanyut sepenuhnya dalam sentuhan-sentuhan yang kian menuntut. Hingga pada satu titik di mana gairah tidak lagi bisa dibendung, Arka mulai memosisikan dirinya dengan hati-hati di tengah tubuh Kanya yang sudah terbuka lebar untuknya.
Ada gurat keraguan yang melintas di wajah Arka, tampak sedikit bingung karena ini adalah pengalaman pertamanya melakukan hal sedalam ini. Dengan gerakan yang masih kaku dan penuh rasa ingin tahu, Arka mencoba menyatukan tubuh mereka secara perlahan. Kanya segera melingkarkan lengannya di leher pemuda itu, memberikan dukungan penuh.
Namun, sesaat kemudian, Kanya mengernyitkan dahi saat rasa nyeri yang tajam mulai muncul di area intimnya. Seluruh tubuhnya mendadak menegang karena sensasi yang asing itu, namun ia berusaha menenangkan diri dengan mendaratkan kecupan lembut di bibir Arka, meyakinkan pemuda itu untuk terus melanjutkan proses penyatuan mereka.
“Teruskan, jangan berhenti.”
“Ta—tapi, kamu sepertinya kesakitan, Kak?”
“Nggak, aku baik-baik saja. Ayo, gerak!”
Napas Arka dan Kanya beradu dalam irama yang memburu, menyatu di tengah keheningan kamar yang hanya diisi oleh suara kulit yang saling bersentuhan. Tubuh mereka tampak berkilau, sepenuhnya basah oleh peluh yang bercucuran setelah pergulatan yang begitu intens. Saat merasakan tubuh Kanya di bawahnya mulai menegang hebat dan mencengkeram bahunya, Arka tidak bisa lagi menahan diri. Ia menengamkan wajahnya, menggigit kecil leher wanita itu untuk menyalurkan sensasi luar biasa yang menjalar ke seluruh sarafnya.
Hingga pada satu titik puncak yang tidak tertahankan, Arka kehilangan seluruh kendalinya. Ia merasakan aliran kenikmatan yang sangat dahsyat meledak dari dalam dirinya, menghabiskan seluruh tenaga yang ia miliki. Dengan sisa kekuatan yang ada, Arka membiarkan tubuhnya tergolek lemas, jatuh menimpa tubuh Kanya yang masih terasa hangat. Keduanya terdiam dalam posisi itu, hanya suara napas yang tersengal-sengal yang terdengar di ruangan tersebut.
Arka tetap bergeming saat merasakan telapak tangan Kanya yang lembut mulai mengusap punggungnya dengan penuh kasih. Dalam keheningan setelah percintaan mereka yang pertama kali ini, Arka menyadari sesuatu yang sangat mendalam. Ada rasa puas dan kebahagiaan murni yang menyusup ke hatinya, sebuah perasaan damai yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan dibandingkan dengan semua pencapaian materi atau uang yang selama ini ia kejar.
“Untuk pemula, kamu lumayan hebat. Bisa dicoba lain kali.”
Ucapan Kanya seperti menohok perasaannya. Tidak dapat menahan tawa, ia mengecup bibir wanita dalam pelukannya.
“Kamu cantik.” Itu yang ia ucapkan dengan lengan memeluk erat tubuh Kanya.