BAB 11

1062 Kata
“Boleh aku menanyakan sesuatu?” bisik Arka lembut. Ia mengecup punggung Kanya yang telanjang. Wanita itu berbaring miring memunggunginya. “Tanya apa? Arka menggerakkan jemarinya dengan sangat pelan, menelusuri setiap inci lekuk punggung Kanya sembari memberikan belaian yang lembut. Sesekali ia sengaja mendaratkan kecupan hangat dan sentuhan lidah pada titik-titik paling sensitif di tubuh wanita itu. Arka merasa sangat bahagia setiap kali mendengar desahan napas Kanya yang mulai memburu. “Katanya mau tanya? Kok malah belai-belai?” tegur Kanya saat merasakan jemari Arka menyentuh bagian intimnya. “Aku penasaran satu hal,” ucap Arka. “Pada statusmu. Ini nggak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin tahu. Apa Kakak pernah menikah?” Kanya terdiam, menghela napas lalu membalikkan tubuh dan kini berbaring telentang. Ia membiarkan tangan Arka menyelusuri tubuhnya. Dengan mata menatap langit-langit kamar, pikirannya menerawang tak tentu arah. Pada masa lalu pahit yang pernah ia rasakan. “Kak?” Tersenyum simpul, Kanya meletakkan tangan di belakang kepala. Menimbang-nimbang perkataan sebelum mengungkapkan yang sesungguhnya pada Arka. “Aku belum pernah menikah. Tapi, memang sudah tidak perawan. Kamu mau tahu kenapa?” Arka menggeleng. “Aku nggak tanya soal perawanmu. Aku tanya soal statusmu. Kalau kamu belum pernah menikah, itu bagus. Soal hubungan dengan laki-laki, aku—,” “Ssst! Diam dulu kamu, biar aku jelasin!” Kanya memotong perkataan Arka. “Baiklah, aku dengarkan.” Kanya menghelap napas panjang, meraih tangan Arka dan menggenggamnya. “Dulu, saat berumur 20 tahun, aku punya kekasih. Dia laki-laki tampan dan pintar. Pegawai andalan papaku di perusahaan kosmetik kami.” Ia memejamkan mata sesaat, berusaha menggali ingatan sebelum melanjutkan ceritanya. “Dia mendekatiku, dan aku menerima dengan senang hati. Bisa dibilang, dia adalah cinta pertamaku. Saat itu, aku yang naif dan lugu, menyerahkan diri begitu saja padanya karena janji manis yang dia ucapkan. Kalau papaku mempromosikan dia menjadi kepala manajer, kami akan menikah. Kamu tahu apa yang terjadi?” Arka menggeleng, mengecup punggung tangan Kanya. “Saat itu, aku yang bodoh merengek pada Papa agar mengangkat Dodi menjadi manajer. Oh ya, namanya Dodi Subrata. Laki-laki yang delapan tahun lebih tua dariku. Karena tidak tahan dengan rengekanku, Papa mengangkatnya. Saat itulah, aku menagih janjinya dan Dodi mengatakan akan menikah segera setelah aku sarjana.” “Lalu?” Tersenyum tipis, Kanya mengingat nasibnya yang miris. “Laluuu, aku percaya kata-kata manisnya. Terlebih saat itu memang perusahaan dalam kondisi kacau balau. Sesuatu terjadi dan membuat kondisi keuangan menurun. Kebenaran terungkap beberapa hari sebelum aku wisuda. Aku memergokinya berbuat m***m di kantor dengan sekretaris papaku. Tidak hanya itu, dia juga melakukan manipulasi anggaran dan membuat perusahaan bangkrut.” Menarik napas panjang dengan tangan tertangkup di d**a, Kanya berusaha menahan kesedihannya. “Papaku terkena serangan jantung dan meninggal. Setelah itu Dodi menguasai perusahaan dan mengambil racikan rahasia yang kami gunakan untuk kosmetik. Dia meninggalkan perusahaan dalam kondisi morat-marit dan mamaku meninggal sebulan kemudian.” “Oh, maaf.” Arka mendesah sedih, mendekap kepala Kanya di dadanya. “Aku menggali luka lama.” “Memang, bahkan sampai sekarang masih terasa sedihnya. Bagaimana aku harus bangkit dari keterpurukan hingga sampai di tahap ini. “Lalu, di mana laki-laki itu.” “Kamu tahu apa yang paling ironis?” tanya Kanya sambil mengedip. Arka menggeleng. Ia tidak tahu tapi ia punya dugaan. “Dodi menikahi anak perempuan direktur lain yang kebetulan juga teman papaku. Yang aku dengar, mereka sudah punya anak sekarang.” “b******k! Setan! b******n! Kalau kenal, aku cincang orang itu!” Tanpa sadar, Arka memaki dengan suara keras. “Di mana alamatnya? Biar aku yang membantumu menghancurkannya!” Pembelaan Arka membuat Kanya tergelak. Ia sedikit terhibur dengan sikap pemuda itu. Dalam keadaan ia sendirian, tidak punya keluarga, ada Arka yang memaki orang lain untuknya. Entah kenapa, hal itu membuatnya bahagia. “Sudah, jangan memaki! Percuma juga.” “Memang, tapi setidaknya aku melampiaskan sedikit kekesalanku.” Kanya meraih dagu Arka dan menggoyangkannya. “Kamu imut banget, sih? Anak siapa, sih?” “Anak orang.” Dengan lembut, Arka mendorong tubuh Kanya agar telentang. “Aku ingin berekperimen terhadap sesuatu. Kak,” ucapnya sambil mengelus tubuh wanita di sampingnya. Ia bergerak turun dan kini kepalanya berada di atas perut Kanya. “Ekperimen apa? “Mencoba mengenal ini,” bisik Arka tepat di atas area intim Kanya. “Kamu cantik, Kak. Bahkan dalam keadaan telanjang begini pun kamu makin cantik.” “Arkaaa, kamu ngapain?” tanya Kanya setengah memekik saat merasakan jilatan di area intimnya. “Diam dan nikmati, Kak. Biarkan aku bereksperimen.” Kanya melenguh panjang saat merasakan sentuhan lidah Arka yang sangat intim menyentuh area kewanitaannya. Karena belum pernah mengalami hal semacam ini sebelumnya, rasa malu dan tidak percaya diri sempat menyergap pikirannya. Namun, Arka seolah tidak memedulikan kegelisahan itu; ia terus menjilat, mengecup, dan mengisap dengan fokus yang luar biasa. Sensasi menggelenyar mulai merambat ke seluruh tubuh Kanya, membuatnya menggeliat dan mendesah tertahan saat gelombang kenikmatan datang bertubi-tubi tanpa henti. Dalam kondisi yang setengah tidak sadar karena pengaruh gairah yang memuncak, tangan Kanya bergerak memegang kepala Arka, lalu menekannya lebih dalam ke arah area intimnya agar ia bisa merasakan sentuhan itu lebih kuat lagi. “Arka, please.” Kanya sudah tidak mampu lagi membendung desakan gairah yang memenuhi seluruh kepalanya, hingga ia akhirnya memohon dengan suara rendah agar Arka segera menyatukan tubuh mereka. Mendengar itu, Arka perlahan mengangkat wajahnya dari area intim Kanya, lalu beralih menindih tubuh wanita itu dengan gerakan yang sangat posesif. Mereka saling merangkul sangat erat, menyatukan bibir dalam cumbuan yang dalam dan penuh damba, seolah tidak ingin ada jarak sedikit pun yang tersisa. Tanpa ragu sedikit pun, Kanya meregangkan kedua pahanya dengan lebar, membiarkan Arka masuk dan mengisi kekosongan di dalam dirinya secara perlahan. Sekali lagi, mereka hanyut dalam gelombang hasrat yang seolah tidak memiliki tepi dan terus menarik mereka lebih dalam. Tidak ada lagi kata-kata yang terucap di antara mereka; ruangan itu kini hanya dipenuhi oleh suara desahan napas yang memburu dan erangan kepuasan yang saling bersahutan di bawah cahaya lampu yang temaram. Begitu keduanya mencapai puncak kenikmatan yang luar biasa secara bersamaan, tubuh mereka seketika terkulai lemas di atas ranjang yang berantakan. Mereka tetap saling mendekap satu sama lain dengan napas yang masih tersengal, mencari sisa-sisa kehangatan dari kulit masing-masing. Kelelahan yang terasa sangat manis itu akhirnya membawa mereka tetap bersama, hingga Kanya memutuskan untuk menginap di unit apartemen Arka sampai cahaya matahari pagi mulai menyelinap masuk ke balik tirai kamar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN