“Setelah apa yang kita lalui tadi malam, tolong jangan menghindariku,” bisik Arka saat melepas Kanya keesokan pagi. Wanita itu pamit untuk mandi karena harus bekerja.
“Nggak, tenang aja. Ini Sabtu, aku kerja setengah hari. Mau nonton atau makan nanti malam?”
Arka mengangguk tanpa pikir panjang. “Mau, aku jemput ke kantormu, bisa?”
“Tentu, nanti aku share lock. Kalau gitu aku nggak bawa mobil.”
Keduanya berciuman dengan intens sebelum memisahkan diri di depan pintu. Sepanjang hari, senyum tak lepas dari mulut Kanya. Terutama jika mengingat malam panas yang ia lalui bersama Arka. Terkadang, ia masih tak percaya jika pemuda itu baru pertama kali bercinta dengan perempuan.
Memang awalnya sangat kikuk dan ragu-ragu, tapi setelah percintaan kedua, Arka makin mahir melakukannya. Membuat Kanya terus menerus berteriak puas. Sudah lama sekali ia tidak bercinta dengan laki-laki dan Arka mampu membangkitkan hasratnya kembali.
Kebahagiaannya bahkan tidak terusik, saat Raphael datang ke kantornya dan bicara tentang Sasha. Ia mendengarkan dengan serius setiap perkataan dari sang pengacara.
“Kamu sudah baca dokumen yang aku kasih?”
Kanya mengangguk, meriah dokumen yang ia simpan di laci dan meletakkannya di atas meja.
“Sudah, dan terus terang aku merasa takut.”
“Takut kalah?”
“Bukan, takut aku nggak punya cukup uang untuk membayarmu.”
Raphael mengangkat sebelah alis. “Bukannya aku sudah bilang kalau kamu jangan mikir soal itu?”
“Mana bisa Pak Pengacara. Kamu bekerja sebagai pengacara professional dan sudah seharusnya menetapkan bayaran.”
“Kanyaa—,”
Tersenyum simpul, Kanya menyandarkan punggungnya pada kursi. Mengamati laki-laki tampan dan modis di depannya. Benaknya melayang pada Sasha dan tuntutan wanita itu padanya.
“Sasha itu sudah punya segalanya. Suami kaya raya dan brand kecantikan sendiri. Malah sekarang dia menggandeng Rachelia dan membuat fitnah yang sedikit banyak menghancurkan namaku. Entah apa yang dia cari dariku. Sepertinya tidak akan pernah puas sampai aku benar-benar terpuruk.”
Raphael mengetuk-ngetuk meja di depannya. Memandang Kanya yang terdiam dengan ekpresi sedih. “Apa kalian punya dendam pribadi?”
“Sepertinya nggak, karena seingatku kami bersahabat baik. Semua dimulai saat kami bertemu, aaah.” Mendadak, sesuatu terlintas di benak Kanya. “Saat kami bertemu dengan Bobby Monti. Bisa jadi ini dugaan atau entah bagaimana, kalau Sasha sebenarnya naksir dengan Bobby Monti tapi ditolak!”
“What? Bukannya Bobby Monti itu tidak suka perempuan?”
“Entahlah, ACDC kayaknya. Bisa jadi Sasha nggak tahu.”
“Lalu, apa hubungannya sama kamu?”
Kanya terkikik geli, menyadari hal yang yang menurutnya sangat mengherankan.
“Bobby Monti pernah melamarku, tapi aku tolak!”
“s**t! Pantas saja.”
Keduanya terus berbincang hingga waktu pulang tiba. Kanya yang ingat punya janji dengan Arka, mengemasi barang-barang begitu Raphael meninggalkan ruang kerjanya. Mengingat tentang Arka, entah kenapa membuat dadanya berdebar. Tanpa ia sadari, sering kali tersenyum sendiri. Ia tidak tahu, kemana Arka akan membawanya tapi pasti menyenangkan.
Kedatangan Arka di kantor membuat heboh para pegawainya yang rata-rata adalah gadis-gadis muda. Tanpa malu-malu mereka menggoda dan memuja Arka. Bahkan terang-terangan meminta nomor ponsel pemuda itu. Tidak ingin menyakiti perasaan perasaan mereka, Arka menolak dengan halus.
Godaan para gadis itu berhenti, saat melihat Arka menggandeng lengan Kanya keluar dari ruangan. Mereka terbelalak tak percaya, jika sang boss bisa menggaet pemuda tampan. Namun, saat mengamati punggung keduanya yang menjauh, akahirnya mereka sadari jika Kanya dan Arka terlihat serasi.
“Kita mau naik taxi?” tanya Kanya saat mereka berdiri di pinggirjalan.
“Nggak, kita naik busway.”
“Hei, panas ini.”
“Tenang, aku sudah siapkan payung.”
Arka membuktikan omongannya. Dari dalam tas ransel, ia mengeluarkan payung lipat dan membukanya. “Ayo, kita ke halte busway. Nggak jauh dari sini,'kan? Turun di halte Sarinah lalu kita lanjutkan naik bus tingkat gratis.”
“Mau ngapain naik bus gratis?” tanya Kanya heran.
“Keliling Jakarta. Karena aku belum pernah sebelumnya.”
Dengan hati berat, karena sengatan udara panas, Kanya membiarkan Arka menuntunnya di bawah naungan payung kotak-kotak. Mereka melangkah beriringan menuju busway dan naik bersamaan dengan penumpang lain yang tidak terlalu banyak.
Seperti niat semula, Arka mengajak Kanya turun di halte yang sudah ditentukan lalu berganti bus tingkat gratis. Kanya yang tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya, tidak mampu menahan senyum saat melihat antusiasme Arka naik bus berkeliling ibu kota. Mereka duduk berdampingan di tingkat atas. Tidak ada penumpang lain selain mereka.
“Kamu suka nggak, Kak?” bisik Arka lembut. Menatap Kanya yang duduk di samping jendela.
“Lumayan. Tapi, nggak pernah terpikir sebelumnya memang.”
Meraih tangan Kanya, Arka mengecup buku-buku jari wanita itu. “Terima kasih, sudah mau menemaniku. Ini luar biasa.”
“Kayak anak kecil kamu,” cela Kanya.
“Biar saja. Anak kecil ini mampu membuatmu berteriak nikmat sepanjang malam,” bisik Arka sambil menggigiti daun telinga Kanya.
“Apaan, kamu. Dasar mesum.”
“Biar saja, yang penting kamu suka.” Arka melepaskan tangan Kanya lalu meletakannya jemari di paha wanita itu. Secara perlahan, ia menyingkap bagian bawah mini dress Kanya dan tangannya merayapi paha bagian dalam wanita itu.
“Hei, jaga tanganmu. Ini di tempat umum,” ucap Kanya dengan mata memandang sengit memberi peringatan.
“Biar saja, nggak ada orang lain di sini.”
“Ada CCTV.”
“Mane? Ngarang aja kamu, Kak. Fokus saja memandang keluar, biar tanganku yang bekerja.”
Percuma Kanya berusaha menolak karena meski mulutnya mengatakan tidak tapi tubuhnya justru bereaksi sebaliknya. Ia menahan desahan saat jemari Arka memasuki area intimnya. Tangan pemuda itu mengelus lembut dan menggodanya tanpa ampun, membuatnya tidak dapat menahan diri untuk mendesah.
“Arka, tolonglah?” ucapnya lirih.
“Kenapa, Kak? Aku yakin dadamu menegang sekarang. Karena kamu sudah basah di bawah sini.”
Kanya mengerang lembut dan meletakan kepala pada punggung kursi di depannya. Bagaimana bisa ia tidak basah karena gairah, karena kini celana dalamnya telah diturunkan dan tangan Arka bergerak leluasa. Ia menggigit bibir, menahan desahan. Sementara bibir Arka berada di dekat telinga. Sesekali menggigit atau menjilatnya. Jika tidak ingat sedang berada di tempat umum, ia pasti menerkam pemuda di sampingnya dan mereka bercinta saat ini juga.
“Kamu cantik, Kak?” bisik Arka dengan suara serak. “Terlebih saat b*******h begini, kamu makin terlihat cantik.”
“Kamu mengajakku berbuat asusila di tempat umum,” jawab Kanya pelan.
“Biar saja, paling kalau kepergok kita disuruh kawin. Siapa takut?”
“Hush! Sembarangan aja ngomong.”
“Oh ya? Aku sembarangan ngomong? Bagaimana kalau begini?”
Seolah ingin menantang keberanian Kanya, Arka menyusupkan jemarinya lebih dalam ke area intim wanita itu, menggerakkannya dengan ritme lembut yang sengaja dirancang untuk membuat tubuh di bawahnya menggelinjang hebat.
Namun, kenyataannya bukan hanya Kanya yang tengah dibanjiri gairah saat ini, Arka pun merasakan gejolak yang sama, bahkan jauh lebih mendesak. Kejantanannya telah menegang keras di balik kekangan celana dalamnya, menciptakan rasa sesak yang menuntut pelepasan. Ia refleks meringis kecil saat Kanya dengan sengaja mengusapkan telapak tangannya di area tersebut, memberikan sentuhan yang membuat seluruh sarafnya bergetar hebat dalam desakan hasrat yang tak lagi terbendung.
“Kamu tegang sekali?” bisik Kanya.
“Karena aku menginginkanmu.”
“Sayangnya, kita lagi di tempat umum.”
“Nggak masalah, sesekali kita melanggar norma dan berbuat amoral.”
“Aku jadi makin yakin kalau kamu baru pertama kali pegang cewek.”
Arka mendekat dan berbisik. “Memang bukan yang pertama kalau megang. Tapi, kalau membuat basah baru pertama begini.”
“Bohong.”
“Jujur, baru pertama.”
Keduanya bertukar senyum dan saling memuaskan satu sama lain. Saat bus berhenti di halte terakhir, Kanya bangkit dengan lunglai. Tidak terhitung berapa kali ia mencapai puncak selama dalam perjalanan. Ia bahkan tidak ingat tempat dan jalan-jalan yang mereka lewati. Yang ia ingat hanya sentuhan lembut jari-jari Arka di area intimnya. Begitu kakinya menginjak troatoar, tubuhnya melemas kehilangan tenaga.
Saat Arka menuntunnya menyebarangi jalan menuju sebuah mall, ia masih tidak percaya sudah melakukan percintaan di tempat umum. Ia memang gila, dan semua karena Arka di sisinya.