BAB 13

1257 Kata
“Tumben kamu pulang cepat?” “Uhm, tadi sakit kepala. Jadi agak bete di kantor.” “Ada masalah?” “Yah, begitulah. Nanti aku cerita.” Arka mendorong troli belanja dengan Kanya berjalan di sampingnya. Mereka berkeliling supermarket yang terletak di lantai basemen apartemen, untuk membeli bahan-bahan masakan. Bisa dikatakan, hampir setiap hari Arka datang ke rumah Kanya untuk makan malam. Tak jarang, menginap. Kehadiran pemuda itu membuat Kanya mau tidak mau memasak makan malam. “Malam ini mau makan kare ayam?” tanya Kanya membolak balik ayam potong di dalam pendingin. “Terserah kamu. Apa yang kamu masak aku makan.” “Dih, gimana kalau nggak enak?” “Gantinya, aku makan kamu.” Perkataan gombal dari Arka membuat pemuda itu terkena cubitan di pinggang. “Kari ayam buat malam ini, besok bikin teriyaki sama salad, dan lusa kita bikin rendang telur sama krupuk. Oke, kayaknya beli dulu buat tiga hari, kalau kurang gampang.” Kanya menghitung bahan masakan di dalam troli. “Jangan lupa buah,” ucap Arka mengingatkan. “Biar nggak sembelit. Kamu ngeluh susah buang air.” “Iya, ih. Beli pisang sama s**u nanti. Itu di sana rak susu.” Di ujung lorong, saat hendak berbelok mereka hampir menabrak troli orang lain. Bunyi besi beradu diiringi ucapan permintaan maaf dari kedua belah pihak. “Arka, kok di sini?” Sapaan dari seorang gadis dengan celana pendek putih sepaha dan kaos kuning membuat Arka mengernyit. Ia rasanya mengenali gadis itu hanya lupa pernah bertemu di mana. “Arni?” Ia berucap setelah mengenali gadis itu. “Hai, ketemu lagi. Ini siapa? Kakakmu?” Arni bertanya sambil mengangguk sopan ke arah Kanya. Arka menggeleng. “Bukan ini, eh—,” “Halo, aku sepupunya,” sapa Kanya memperkenalkan dirinya sendiri. Arka dibuat melotot saat mendengarnya tapi Kanya dan Arni sedang terlibat obrolan ringan. Selang beberapa saat gadis itu berpamitan dan meninggalkan mereka dengan riang. “Kamu kenal di mana?” tanya Kanya. “Di lobi, nggak sengaja juga.” Sebuah panggilan datang ke ponsel Arka saat mereka sedang mengantri di kasir. Pemuda itu menjauh dari kasir. Kanya tidak tahu siapa yang menelepon dan apa yang dibicarakan mereka karena jarak yang cukup jauh. “Kak, sorry. Aku keluar duluan, ya?” Arka berbisik di telinga Kanya. “Kalau kamu nggak kuat bawa sendiri, taruh di informasi. Nanti aku yang ambil.” “Kamu mau ke mana?” tanya Kanya. “Ke lobi. Papaku ada di sini dan nunggu aku di atas.” “Oh, kalau gitu pergi sana. Aku bisa sendiri.” “Yakin?” “Yakin, gih sana!” Tidak menunggu perintah dua kali, Arka menyelip-nyelip di antara antrian dan setengah berlari menuju escalator. Ia tidak tahu, kenapa sang papa mendadak datang menemui malam-malam begini. Tadi siang mereka sempat bertemu di pabrik, dan tidak ada percakapan soal kedatangan sang papa. Tiba di lobi, Arka mengedarkan pandangan dan melihat papanya duduk di salah satu kafe kopi. Ia menghampiri dan mengenyakkan diri di seberang Haribawa. “Dari mana kamu? Bukannya sudah pulang dari tadi?” tegur Haribawa pada anak sulungnya. “Mampir beli sesuatu tadi. Tumben Papa datang kemari. Ada apa?” Heribawa mengaduk kopi hitam yang disajikan dalam cangkit porselen. Menatap anak laki-lakinya sejenak sebelum meneguk minuman. “Papa datang kemari untuk memintamu mempertimbangkan kembali tentang tawaranku.” Arka mengernyit. “Yang mana, Pa?” “Perihal S2 ke luar negeri.” Senyum tipis keluar dari mulut Arka saat mendengar penuturan sang papa. Ia tidak kaget, hanya tidak menduga jika papanya akan sedikit memaksa dan menekan perihal kuliah di luar negeri. Sedangkan dirinya sama sekali tidak ada keinginan untuk itu. “Bukannya aku sudah bilang kalau nggak tertarik?” Ia menjawab pelan. “Kamu pikirkan dulu. Sekarang, setelah nggak ada Nenek harusnya kamu bisa lebih bebas ke mana pun kamu mau pergi. Bukannya saat kecil dulu kamu berniat sekolah ke Jerman?” Kali ini, Arka tidak dapat dengkusan kasar. Ia sama sekali tidak paham dengan maksud perkataan dari sang papa. “Nenek bukan beban buatku. Beliau justru orang yang paling berjasa untukku!” Heribawa mengagguk. “Iya, aku nggak bilang dia beban. Aku cuma bilang sekarang kesempatanmu melihat dunia. Emangnya apa yang membuat kamu enggan kuliah di luar negeri?” Arka mencondongkan tubuh, mendekat ke arah sang papa. “Pa, kenapa, sih, ingin sekali menyingkirkan aku? Tante Alira nggak suka aku di perusahaan?” “Ini semua nggak ada hubungan sama Alira.” Bantahan sang papa sama sekali tidak dipercaya oleh Arka. Semua orang tahu kalau Alira—istri kedua Heribawa—membencinya. Namun, ia tidak pernah memedulikan wanita itu. Baginya, perusahaan peninggalan sang mama lebih penting dari pada mengurus tentang kebencian wanita itu padanya. “Papa nggak usah menutup-nutupi masalah. Aku tahu Tante dari dulu nggak suka sama aku. Asal dia tahu, perusahaan itu milik keluarga Mama.” Suara gebrakan meja membuat Arka berjengit. Ia menatap Heribawa yang terlihat marah. Ia tidak gentar, karena tahu sedang memperjuangkan hak-nya. Heribawa memang ayah kandungnya, tapi ia kehilangan respect saat laki-laki itu lebih memilih menikahi Alira dari pada merawat sang mama yang sedang berjuang dengan sakit. Jaga mulutmu, Arka!” Heribawa menuding marah. “Jika bukan karena papa, perusahaan itu tidak ada sebesar sekarang! Dan, hormati Alira. Dia itu istriku!” “Aku anakmu, darah dagingmu! Kalau Papa lupa itu!” Arka memotong perkataan sang papa dengan kesal. “Aku tidak tahu apa yang kalian sembunyikan. Kenapa kalian ngotot untuk menyingkirkanku. Tapi, bisa kupastikan aku tidak akan meninggalkan perusahaan milik Mama!” Menahan rasa marah di d**a, tanpa berpamitan Heribawa meninggalkan meja. Wajah laki-laki itu memerah, dengan bahu yang terlihat tegang dan kaku. Tidak mengindahkan anak laki-lakinya yang duduk terpaku, ia berlalu dalam kegeraman. Di sudut lobi, Kanya yang sedari tadi berdiri menunggu Arka, memperhatikan bagaimana ayah dan anak itu berdebat. Meski ia tidak bisa mendengar percakapan mereka tapi ia tahu kalau keduanya terlibat adu mulut. Terlihat dari wajah Arka yang mengeras sepanjang percakapan, dan laki-laki setengah baya yang menatap anaknya dengan pandangan marah. Setelah laki-laki itu pergi, Arka terlihat menunduk di kursinya. Ia tidak tahu apa yang membuat pemuda itu murung, tapi yang pasti pertemuannya dengan sang papa bisa dibilang tidak berjalan dengan baik. Merasa kasihan melihat Arka yang terlihat sedih, ia menghampiri pemuda itu dengan tangan meneteng kantong berisi belanjaan. “Sudah selesai belum? Berat, nih!” sapanya ceria. Arka seketika mendongak dan menatapnya kaget. “Loh, belum naik ke atas?” “Belumlah, orang banyak bawaannya. Gimana mau naik?” “Aku sudah bilang taruh di informasi.” “Nggak, ah. Takut lama, mau dimasak sekarang.” Bergegas bangkit dari kursi, Arka meraih kantong-kantong dari tangan Kanya dan menentengnya. Keduanya melangkah beriringan menuju lift. “Are you okey? Mukamu ditekuk gitu,” tanya Kanya saat mereka berdiri bersisihan di dalam lift. “Uhm, baik. Hanya sedikit kesal,” jawab Arka sambil mendesah kecil. Kanya mengulurkan tangan untuk mengusap punggung Arka. “Jangan sedih. Aku masakin yang enak khusus buat kamu.” Arka tersenyum, melirik wanita cantik di sampingnya. “Apa ada hidangan penutup?” tanyanya dengan mata berkilat jahil. “Ooh, kamu mau hidangan penutup apa? Pudding atau cake? Tadi aku nggak beli.” “Bukaan itu. Aku mau hidangan penutup yang lain.” “Contohnya?” “Sini deh, deketan.” Kanya mendekat dan mendengarkan Arka berbisik di telinganya. Makin banyak yang ia dengar makin merah mukanya. Selesai berucap, ia mencubit pemuda itu dan berkata lantang. “Dasar m***m!” Tawa Arka mengisi ruang lift yang kosong. Menggemakan rasa gembira dan seakan berusaha mengusir kesedihan yang hadir di dalam jiwa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN