BAB 5

1086 Kata
Kanya mengamati dalam keremangan pagi, sosok Arka yang masih terbujur di atas sofa. Malam sebelumnya, ia cukup kesulitan membawanya pulang. Bahkan harus meminta bantuan petugas keamanan apartemen untuk memapah Arka sampai ke unitnya. Setelah itu, ia membiarkan pemuda itu tertidur, usai muntah-muntah dan menenggak obat pereda sakit kepala. Langkah Kanya perlahan mendekati sofa. Ia menatap wajah Arka dari dekat. Ini pertama kalinya ia membiarkan seorang laki-laki menginap di unitnya. Sebelumnya, tidak ada yang pernah datang selain Angela. Privasi selalu ia jaga ketat, karena ia takut mengalami gangguan yang bisa merusak ketenangannya. Ia berjongkok di samping sofa, mendesah bingung. Matanya meneliti wajah Arka yang tampak tenang dalam tidur. Tangannya gatal ingin menyentuh, dan akhirnya ia membiarkan telunjuknya bergerak pelan. Ia membelai kelopak mata yang tertutup, menyusuri hidung, lalu berhenti di bibir. Ingatan tentang ciuman mereka tadi malam muncul begitu saja. Kanya merasa malu, pipinya memanas. Ia masih tidak percaya bisa larut dalam momen itu, mencumbu Arka dengan penuh gairah. Rasa bersalah dan ragu bercampur, membuatnya mengutuk diri sendiri. Dengan cepat ia bangkit, menjauh dari sofa. Ia mencoba menenangkan diri, menatap ke arah jendela yang mulai diterangi cahaya pagi. Hatinya berdebar, pikirannya kacau. Ia tahu, kehadiran Arka membawa sesuatu yang baru dalam hidupnya, sesuatu yang belum siap ia hadapi. “Kak, aku di mana?” Suara serak Arka terdengar lirih dalam keremangan. Kanya tertegun, lalu kembali berjongkok di samping sofa. “Kamu sudah bangun? Masih pusing?” tanyanya pelan. “Nggak terlalu,” jawab Arka sambil mengurut kening. Ia bangkit perlahan, mengerjap untuk menyesuaikan pandangan dengan sekeliling. “Ini tempatmu?” “Iya. Semalam kamu mabuk. Aku nggak tega ninggalin kamu sendiri, jadi aku bawa ke sini.” Arka menunduk, merasa canggung. Ia menatap sekeliling ruangan yang sederhana namun rapi. “Aku bikin repot, ya?” Kanya menghela napas singkat. “Nggak apa-apa. Yang penting kamu baik-baik saja.” Meninggalkan Arka di ruang tamu, Kanya melangkah ke dapur yang berada dekat pintu depan. “Aku buatin kamu sarapan. Kalau kamu kuat bangun, sebaiknya ke kamar mandi dulu. Cuci muka, gosok gigi. Ada sikat gigi baru di atas westafel, handuk kecil di sampingnya.” Arka mengangguk, masih merasa malu. “Terima kasih, Kak.” Kanya tidak menoleh, ia melangkahkan kaki jenjangnya menuju dapur di sudut apartemennya. Suasana pagi itu terasa tenang, meski ada sedikit canggung di antara mereka. Arka meregangkan tubuh, lalu berjalan sempoyongan menuju kamar mandi. Ia menemukan perlengkapan yang disebutkan Kanya semalam. Setelah membersihkan diri, ia melangkah keluar dengan wajah masih lelah. Di dapur, aroma kopi langsung menyambutnya. Di atas meja kecil sudah tersedia secangkir kopi panas dan telur mata sapi. Bau mentega yang meleleh di atas wajan membuat suasana terasa hangat. Kanya tampak sibuk menyiapkan roti panggang. Arka berdiri beberapa saat, memperhatikan tanpa banyak bicara. Ia merasa canggung, namun juga nyaman dengan perhatian kecil yang diberikan Kanya pagi itu. Tak lama wanita itu datang dengan piring putih berisi setangkup roti bakar yang diolesi selai nanas. “Makan yang banyak, lalu minum obat sakit kepala lagi kalau kamu masih pusing.” Kanya mengenyakkan diri di depan pemuda itu dan meneguk kopinya, mengamati wajah Arka yang terlihat sedikit lebih segar karena siraman air. “Kamu kuliah di mana?” tanya Kanya sambil menatap Arka yang masih sibuk dengan kopinya. “Universitas Indonesia,” jawab Arka singkat, tanpa mendongak. “Semester berapa?” “Akhir, sedang skripsi dan ujian.” “Wow, calon sarjana. Ambil jurusan apa?” “Teknik kimia.” Kanya mengangguk pelan. “Keren. Kenapa ambil jurusan sulit begitu?” Arka meletakkan cangkir, mengambil roti, lalu menggigitnya. Ia menatap Kanya yang duduk di depannya dengan daster sederhana. “Keluarga kami punya pabrik kaca. Jadi aku kuliah teknik kimia, berharap bisa kerja di sana. Itu saja.” “Cita-cita mulia, demi keluarga,” komentar Kanya. “Kebanyakan anak muda seumuran kamu justru ingin mandiri, nggak mau terikat usaha keluarga.” Arka tersenyum tipis. “Awalnya aku juga gitu. Malah cita-citaku dulu ingin jadi pilot.” “Terus? Orang tua nggak setuju?” Arka menggeleng. “Bukan, ada alasan lain.” Kanya menatapnya penasaran. “Alasan apa?” Arka terdiam sejenak, lalu mengalihkan pandangan. “Nanti aku ceritain. Masih agak berat kalau sekarang.” Kanya tidak mendesak. Ia hanya tersenyum kecil. “Oke. Semoga kamu cepat jadi sarjana.” Arka mengangguk. “Makasih.” Kanya bangkit dari kursi, berjalan ke westafel untuk mencuci gelas. Arka memperhatikan dari tempat duduknya. Tubuh Kanya dalam balutan daster bunga-bunga membuat matanya sulit beralih. Rambutnya digelung ke atas, menampakkan tengkuk yang jelas terlihat. Tanpa sadar, Arka menelan ludah. Pikirannya kembali pada peristiwa tadi malam. Ia mengingat bagaimana bibir Kanya menempel pada bibirnya, bagaimana tangannya sempat menyentuh tubuh wanita itu. Ingatan itu membuatnya gelisah. Ia merasa kesal pada dirinya sendiri karena membiarkan pikiran itu berulang. Arka menandaskan kopinya, mencoba mengalihkan perhatian. Ia bangkit dari kursi, membawa gelas ke westafel. Langkahnya pelan, namun hatinya berdebar. Ia berdiri di belakang Kanya, menahan diri agar tidak gegabah. Aroma lembut dari tubuh wanita itu tercium jelas, membuatnya semakin sulit mengendalikan diri. Kanya tetap sibuk dengan gelas di tangannya, tidak menyadari betapa Arka sedang berjuang menahan dorongan yang muncul. Suasana dapur terasa hening. Hanya suara air mengalir dari westafel yang terdengar. Arka menunduk, mencoba menenangkan diri. Ia tahu, jika tidak hati-hati, ia bisa melakukan sesuatu yang akan membuat Kanya marah. “Kok bengong? Sini gelasnya!” kata Kanya sambil menoleh. Arka maju selangkah, meletakkan gelas ke westafel, lalu tanpa ragu memeluk tubuh Kanya dari belakang. “Hei, ada apa kamu?” tanya Kanya kaget. “Nggak ada, pingin meluk aja. Kakak terlihat enak untuk dipeluk,” ucap Arka dengan suara serak di telinganya. Kanya terkekeh kecil. “Mana ada alasan begitu.” Namun ia tidak menolak, membiarkan tangan Arka tetap melingkari tubuhnya. “Sana, pulang! Kamu harus kuliah,” ujar Kanya mencoba mengingatkan. Arka bergeming, justru mempererat pelukannya. Ia menempelkan kepalanya di bahu Kanya, merasakan kenyamanan yang sulit dijelaskan. “Kok makin manja?” Kanya berusaha menahan senyum. “Sebentar saja,” jawab Arka singkat. Suasana dapur menjadi hening. Kanya tidak bergerak, sementara Arka tetap memeluk, seolah enggan melepaskan. Keduanya berdiri diam cukup lama. Lengan Arka masih melingkari tubuh Kanya, membuat suasana terasa canggung. Pelukan itu memberi kenyamanan, meski Kanya berusaha mengabaikan perasaan yang muncul. Hangat napas Arka di telinganya membuat ia semakin bingung. Ada sesuatu yang berputar di dasar hati, namun ia menolak untuk memikirkan lebih jauh. Ia hanya membiarkan waktu berjalan dalam keheningan. Akhirnya, Arka melepaskan pelukan dan berpamitan. Kanya terdiam, merasa aneh dengan situasi yang baru saja terjadi. Kebingungan itu masih menempel bahkan setelah Arka pergi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN