Setelah peristiwa pagi itu, Kanya tidak lagi menjumpai sosok Arka. Mereka tidak pernah bertemu sekali pun baik di lift maupun di lorong apartemen. Ia menduga pemuda itu sedang sibuk dengan skripsinya. Terkadang, terbersit dalam benaknya untuk menanyakan kabar Arka. Namun, ia ingat tidak punya nomor ponsel pemuda itu. Terpaksa, ia menahan keinginannya.
Suatu siang, Angela datang ke kantornya dengan heboh. Wanita itu membawa sekotak kue yang baru saja dia beli dari sebuah toko milik artis. Dengan menggebu-gebu ia menerangkan kalau kue yang dia beli enak sekali.
“Isinya banyak dan coklatnya lumer di mulut. Kamu bawa pulang dua kotak ini.”
“Hei, jangan banyak-banyak. Siapa yang mau makan?”
“Aduh, simpan di kulkas. Makan pelan-pelan enak kok. Btw, tadi aku ketemu pengacara sebelah. Makin tampan aja dia. Kamu yakin nggak mau coba kencan sama dia?”
Kanya yang sedang makan kue keju, menggeleng pelan. “Nggak minat! Aku menghargai dia sebagai teman dan hubungan kami memang hanya professional saja.”
“Nggak mau coba kencan?”
“No! Kalau aku kencan sama pengacara itu, seperti membuktikan omongan Sasha kalau aku tidur dengan laki-laki itu demi membayar jasanya di pengadilan.”
“What? Sasha bilang gitu?”
“Iya, itu salah satu alasan aku nggak mengencani pengacara itu.”
Angela berdecak sambil menggeleng. “Sayang sekali. Padahal dia tampan dan mapan. Kapan lagi kamu dapat jodoh begitu?”
Kanya tertawa lirih. “Hei, jangan bilang soal jodoh sama aku, seakan-akan aku perawan tua yang nggak laku!”
“Kamu laku tapi kamu pemilih!”
“Yah, kamu tahu alasannya kenapa aku pemilih,” sela Kanya pelan. Kelebatan masa lalu yang menyakitkan berputar-putar di benaknya dan tanpa sadar membuatnya bergidik.
Angela mengangguk penuh pengertian. “Memang, tapi sudah saatnya move on dan menatap masa depan. Mau sampai kapan berkubang pada rasa sakit?”
Kanya mengangkat bahu. ”Aku belum punya bayangan untuk itu. Lihat nanti.”
“Semoga cepat. Aku nggak mau kamu sendiri terus. Bukan karena takut nggak laku atau bagaimana tapi, alangkah lebih baik kalau kamu ada yang jagain.”
Sepeninggal sahabatnya, Kanya termenung sendiri. Ingatan masa lalu memenuhi pikirannya. Sudah hampir sepuluh tahun berlalu tapi rasa sakitnya masih nyata. Ia memejam, meraba d**a yang berdebar sakit. Tangisan kecewa, sakit hati, dan juga kehilangan kembali menyeruak memenuhi hati.
Rasa rindu pada orang tua memenuhi relung sanubari dan ia tercabik pada penyesalan tak bertepi. Meski sering kali ia berandai-andai, seandainya bisa menghindari tentu tidak seperti ini. Akan tetapi, ibarat nasi sudah menjadi bubur, hal yang lalu tentu saja sudah terjadi. Kini tertinggal rasa sesal tak bertepi.
Banyaknya kue yang diberikan Angela, membuat Kanya kebingungan akan membagi pada siapa. Ia berinisiatif memberikan pada Arka. Sudah beberapa hari mereka tidak bertemu, dengan kotak kue di tangan ia memencet bel unit sebelah. Ia nyaris putus asa dan bersiap pergi karena beberapa kali membunyikan bel tidak ada yang membuka pintu, saat pintu terbuka dan sosok Arka muncul dalam keadaan pucat pasi.
“Kak, ada apa?”
Kanya mengernyit. “Kamu sakit?”
Arka mengangguk kecil. “Demam, flu.” Tak lama suara bersin memenuhi ruangan. Pemuda itu tidak memakai atasan, tubuhnya yang berotot tampak kontras dengan wajah yang imut.
“Sudah ke dokter?”
“Nggak, cuma minum obat. Mau masuk, Kak? Arka membuka pintu lebih lebar dan membiarkan Kanya memasuki unitnya. “Maaf, berantakan.”
Dengan kikuk Arka merapikan bajunya yang bertebaran di sofa ruang tamu dan memasukkannya dalam keranjang plastik di depan kamar mandi. Lalu menghilang ke dalam kamar.
Kanya mengamati seantero ruangan. Ada satu sofa kulit hitam di depan televisi dipisahkan oleh meja kaca bulat. Dua rak berisi buku-buku berjajar di dekat jendela kaca. Hanya itu, tidak ada perabot lain. Ia menoleh dan melihat dapur kecil yang terlihat seperti tidak pernah disentuh. Peralatan masak hanya berupa panci kecil dan penggorengan yang tergantung di rak. Sebuah lemari pendingin hitam, berfungsi sebagai pemisah ruang tamu dan dapur.
“Kak, mau minum sesuatu?” Arka muncul, sudah memakai kaos putih.
“Nggak usah. Kamu sudah makan?” tanya Kanya.
Arka menggeleng kecil. “Belum, mungkin nanti pesan bubur di bawah.”
“Oh, kalau gitu kamu duduk saja makan ini.” Kanya menyodorkan kotak berisi kue pada Arka. “Aku buatin kamu makan malam.”
“Eh, tapi Kak. Kamu baru pulang kerja.”
“Santai, aku juga lapar.”
Kanya pamit pulang. Setelah mengganti setelan kerja dengan daster motif bunga, ia mulai berkutat di dapur. Karena sebelumnya tidak terpikir untuk memasak, terpaksa ia menggunakan bahan yang ada di kulkas. Satu jam kemudian, ia mengetuk pintu unit Arka dan membawa beberapa jenis hasil masakan.
“Wah, banyak amat, Kak?” ucap Arka takjub saat mangkok berisi sayur dan lauk diletakkan di atas meja kaca. Ia tidak punya meja makan, terpaksa mereka makan di sofa ruang tamu.
“Nggak, ini dikit aja. Bubur ayam, tumis baby buncis, dan telur ceplok. Aku sendiri belum ke supermarket buat belanja. Jadi masak yang ada aja.”
“Ini enak banget, sumpah,” puji Arka mencecap bubur dalam mangkoknya.
“Sengaja bikin bubur buat kamu. Ada persediaan obat?”
“Ada, sudah beli.”
“Kalau sampai besok belum sembuh, jangan lupa ke dokter.”
“Iya, Kak.”
Mereka makan sambil mengobrol. Bisa jadi karena ada yang menemani, tanpa sadar Arka menandaskan dua mangkuk bubur. Bahkan telur ceplok dan tumis sayur pun ia makan sampai habis. Setelahnya, ia membiarkan Kanya mencuci peralatan makan karena saat ia menawarkan diri melakukannya, ditolak oleh wanita itu.
Ia duduk di sofa dan menatap tidak enak hati, saat Kanya membantunya membersihkan ruangan. Dari mulai menyapu dan mengepel.
“Kamu ngepel tapi kurang bersih. Lihat pojokan masih berdebu,” omel Kanya saat mendengar protesnya.
Akhirnya, ia putuskan untuk tidak membantah perkataan wanita itu. Setelah minum obat, matanya terasa berat. Tanpa sadar, ia tertidur di atas sofa. Kanya menatap pemuda yang tergeletak pulas dengan senyum tersungging.
Ia berniat istirahat sebentar sebelum kembali ke unitnya dengan mengenyakkan diri di samping Arka. Tangannya meraih satu novel di kolong meja dan mulai membacanya. Bisa jadi karena kelelahan, tanpa sadar ia pun tertidur.
Sebuah sentuhan hangat ia rasakan di pundak, lalu turun ke pinggang. Kanya menggeliat dalam tidurnya. Ia mengerang, saat tangan-tangan kuat itu kini membelai bagian belakang tubuhnya. Dengan mata masih terpejam, ia mengulurkan tangan dan mengalungkan di leher seseorang.
Ia seperti mengawang-awang dalam dunia mimpi, antara sadar dan tidak saat bibirnya bertautan dengan bibir yang dingin. Kecupan-kecupan ringan dan berubah jadi intens saat mereka saling melumat.
la membuka mata, sadar jika bukan berada di dalam mimpi saat sebuah tangan yang kuat meremas dadanya dari atas daster yang dipakai. Sosok Arka menindih tubuhnya dan kepala pemuda itu berada di pangkal lehernya.
“Arka, kamu ngapain?” tanyanya serak.
“Nggak, mau belajar bermesraan.” Pemuda itu menjawab sambil terus melancarkan kecupan di pundak dan leher Kanya. “Kak, boleh aku buka kancing dastermu?”
Pertanyaaan kurang ajar tapi diucapkan dengan sopan membuat Kanya tidak bisa menahan kikik. Ia meraih kepala Arka dan mereka berpandangan dalam keremangan.
“Mau mau ngapain?” tanyanya lembut.
“Lihat saja.”
“Hanya lihat?”
“Eh, sentuh kalau boleh,” jawa Arka kikuk.
“Kenapa pingin sentuh?”
Arka menurunkan kepala di ceruk leher Kanya. Menghirup aroma tubuh wanita itu dan merasakan gelenyar yang tidak ia mengerti.
“Entah kenapa, saat melihatmu aku seperti ada keinginan untuk menyentuh dan membelai.”
“Hanya itu?” desah Kanya.
“Dan, menciummu.”
Kali ini, Arka membuktikan perkataannya. Ia mengangkat kepala dan melancarkan ciuman di bibir Kanya. Meski dengan sedikit rasa canggung, ia melumat bibir wanita itu dan bersemangat saat mendengar desahan.
Suara kecupan, desah napas tak beraturan, dan juga bunyi-bunyi ciuman, memenuhi ruangan yang temaram. Kanya mengarahkan kepala Arka ke arah dadanya dan membiarkan pemuda itu melepas kancing dasternya. Ia bisa merasakan tangan pemuda itu gemetar. Harusnya, ia pun tidak menuruti permintaan Arka, namun entah kenapa ada hal gila yang terpikir di otaknya. Tentang rasa sentuhan dari laki-laki yang telah lama tidak ia rasakan.
"Kak, milikmu sungguh menawan," bisik Arka, tatapannya terpaku penuh damba. Jemarinya bergerak pelan, menangkup dan merasakan kelembutan yang nyata di hadapannya. Arka meremasnya perlahan hingga rintihan kecil lolos dari bibir Kanya. "Aku sering membayangkan saat-saat ini, terutama ketika melihatmu mengenakan daster tipis itu. Meski waktu itu aku sama sekali tidak menyentuhnya, aku sangat yakin bahwa kamu sedang tidak mengenakan pakaian dalam."
“Iya kah?”
“Iya, dan aku ingin mengecupnya.”
Sensasi panas yang luar biasa hebat menjalar dari dalam tubuh Kanya saat ia merasakan bibir Arka mulai mengulum pucuk dadanya dengan sangat lekat. Ia hanya bisa mendesah pasrah sekaligus mengerang pelan, merasa sangat haus akan sentuhan yang jauh lebih dalam dan menuntut daripada sekadar permainan bibir di permukaan kulitnya.