Ibra berdiri tertegun di ujung tempat tidur. Tertoreh perih yang tidak bisa diuraikan dengan kata-kata saat melihat Gala tertidur pulas dalam pelukan istrinya. Di usianya yang sepantaran dengan Langit dan Jingga, belum sekalipun bocah malang itu melewatkan tidur malam dalam buaian ibu kandungnya. Dalam lelapnya, tangan mungil itu mencengkram erat baju tidur Freya seakan takut ditinggalkan. Dia melangkah mendekat, lalu duduk di tepi tempat tidur. Mata Freya perlahan membuka, mengerjap mendapati suaminya yang sedang terpaku menatap ketiga bocah kecil mereka. "Ini jam berapa?" tanya Freya hendak berbalik melihat jam duduk di nakas samping tempat tidur, tapi tertahan karena kerah baju tidurnya dicengkram oleh Gala. "Hampir jam empat," jawab Ibra lirih takut membangunkan mereka. Mata kedua