"Maaf, kalau itu saya kurang tahu karena setelahnya Nadia tidak diizinkan keluar rumah." Mereka tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya begitu mendengar jawaban Ara. Berbagai pikiran buruk seketika datang memporak porandakan harapan mereka untuk bisa melihat satu-satunya darah daging Raka. Secuil harapan yang nyaris teraih, kembali terhempas menjauh oleh ketidakpastian. Helaan nafas Ibra terdengar berat, terbesit cemas manakala mengingat sikap Bramasta yang mati-matian menutup rapat tentang adiknya. Hal terkutuk apa yang sudah pria itu lakukan pada Nadia dan bayinya hingga harus menyembunyikan keberadaan mereka dari semua orang. "Apa sebenarnya yang terjadi setelah itu?" tanya Sifa. "Kakak Nadia mengetahui tentang kehamilan itu. Dia marah besar, apa lagi Nadia bersikeras tetap bungkam