“Hai, kau masih mengenalku?” Gadis remaja yang berdiri di depan lelaki tampan memggeleng pelan. Ia terpesona akan lelaki tampan di depannya ini. Ia tidak mengenalnya, tapi ntah kenapa dirinya malah tertarik pada lelaki tersebut. “Tidak. Memangnya kita pernah kenalan dan bertemu sebelumnya?” Lelaki itu tersenyum dan menggeleng. “Tidak pernah. Kau mau menjadi kekasihku?” tanyanya. Gadis remaja itu mengangguk dengan pipi yang memerah. “Namira, sampai kau mati. Kau tetap milikku sayang.” Namira merasakan tubuhnya menegang dan tersenyum. “Aku milikmu.” Ucapnya penuh kebahagiaan dan memeluk lelaki di depannya. “Aku milikmu!” Namira langsung terbangun dan menatap sekeliling, mengusap peluh keringat yang ada di pelipisnya. Lalu dia melihat jam dinding dalam kamar. Sudah pukul sepuluh