Praditya melangkah lebar menyusuri koridor lantai eksekutif menuju ruangan paling ujung, tempat di mana kekuasaan tertinggi Aryatama Group bersemayam. Ia tidak mengetuk. Dengan satu sentakan kasar, ia mendorong pintu ganda berbahan jati itu hingga membentur dinding, menciptakan dentuman yang menggema di ruangan yang biasanya tenang dan sunyi tersebut. Mahendra Aryatama, sang patriark yang sedang memeriksa laporan di balik meja besarnya, tersentak. Ia mengernyitkan dahi, menatap putranya yang berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan aura gelap yang sangat pekat. "Ada apa? Tak bisakah lebih sopan sedikit, Praditya?" suara Mahendra terdengar berat dan penuh wibawa, meskipun ada nada terkejut di sana. "Aku tidak ingin basa-basi, Ayah," sahut Praditya dingin, melangkah maju hingga be

