Praditya memutar setir dengan gerakan kasar, ban supercar-nya memekik saat ia keluar dari area parkir gedung pusat Aryatama Group. Ia tidak ingin kembali ke kantornya sendiri. Persetan dengan tumpukan berkas audit atau janji temu dengan investor Singapura. Otaknya sudah mencapai titik jenuh, nyaris meledak oleh sisa-sisa konfrontasi dengan ayahnya dan bayangan masa lalu yang kembali menghantui. Di kursi samping pengemudi, ponselnya terus bergetar tanpa henti. Nama "Ibu" berkedip di layar, menuntut jawaban atas menghilangnya Amindita dari butik tadi. Praditya melirik sekilas, lalu menyeringai sinis. Ia bisa membayangkan betapa murkanya Gayatri saat ini—melihat sekretaris yang ingin ia jadikan pelayan justru dibawa kabur oleh pengantin prianya sendiri. "Cari saja terus, Bu," gumamnya renda

