Praditya keluar dari kamar dengan penampilan yang jauh lebih santai, namun justru memancarkan pesona yang jauh lebih mematikan bagi jantung Amindita. Rambutnya masih setengah basah, beberapa tetes air jatuh mengenai kaos putih polos yang membalut tubuh atletisnya hingga mencetak samar otot dadanya. Aroma sabun maskulin bercampur kesegaran air seolah memenuhi ruangan, mengusir sisa-sisa ketegangan yang ia bawa dari kantor tadi. Amindita sedang sibuk menata piring dan mangkuk berisi semur daging yang masih mengepulkan uap panas. Namun, langkah kaki telanjang Praditya di atas lantai marmer hampir tak terdengar sampai pria itu kembali menyergapnya dari belakang. "Mas, nanti tumpah—" Kalimat Amindita terputus saat Praditya melingkarkan lengannya di perutnya dan menyurukkan wajah ke lehernya.

