Mobil yang dikendarai oleh Praditya melaju membelah jalanan Jakarta dengan kecepatan yang nyaris ugal-ugalan. Di dalam kabin yang kedap suara itu, suasana terasa begitu menyesakkan, lebih panas dari aspal yang terbakar matahari di luar sana. Praditya mencengkeram setir hingga buku-buku jarinya memutih, sementara napasnya memburu, menciptakan sesak dan semakin suasana memanas. "Jawab aku, Amindita! Sejak kapan kamu mengenal laki-laki itu?" tuntut Praditya. Suaranya tidak lagi rendah, melainkan meninggi, sarat akan kecurigaan yang meracuni logikanya. Sudah diubun-ubun rasanya. Amindita memalingkan wajah ke jendela, ia tak ingin menjawab hal yang menurutnya tak penting dan tak perlu dijawab. Sejak tadi ia memilih diam. "Aku sudah bilang, aku tidak mengenalnya, Mas! Dia hanya orang asing ya

