105

1525 Kata

"Cepat, Wir! Lebih cepat lagi! Kamu bisa bawa mobil nggak, sih?!" bentak Praditya, suaranya menggelegar di dalam kabin mobil yang melaju kencang, membelah jalanan Jakarta dengan ugal-ugalan. Napasnya memburu, matanya memerah menahan badai air mata dan amarah yang nyaris pecah. Wira tidak membalas. Ia mencengkeram kemudi dengan erat, menerabas begitu saja lampu merah, dan menekan pedal gas sedalam mungkin. Ia tahu, saat ini Praditya sedang tidak berada dalam kondisi akal pikiran yang waras. Di kursi belakang, Praditya mendekap erat tubuh Amindita ke dalam d**a bidangnya. Kedua tangannya yang biasa kokoh meneken kontrak miliaran rupiah, kini gemetar hebat. Jantungnya bertalu begitu kencang sampai rasanya menyakitkan. Setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan abadi, terutama saat ia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN