Suasana ruang bersalin berubah menjadi medan perjuangan yang penuh haru dan ketegangan. Suara mesin monitor detak jantung janin berbunyi ritmis, bersahutan dengan napas Amindita yang kian memburu. Dokter spesialis kandungan, dibantu oleh dua orang perawat senior, segera mengambil posisi. "Nyonya Amindita, tarik napas dalam-dalam," instruksi dokter dengan suara yang tenang namun berwibawa. "Kontraksi sudah sangat kuat sekarang. Saya butuh fokus Anda. Saat saya bilang dorong, Anda dorong sekuat tenaga, ya?" Amindita hanya bisa mengangguk lemah, wajahnya sudah basah kuyup oleh keringat. Ia meremas tangan Praditya begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih di punggung tangan pria itu. Praditya tidak meringis sedikit pun; baginya, rasa sakit itu tak ada apa-apanya dibanding perjuangan istrinya.

