“Ibu?” Airin menatap Keyra seraya bertanya ada apa. Sejak sepulangnya dari rumah sakit dia memang tidak meninggalkan anaknya sendiri. Walaupun begitu Airin lega karena anaknya hanya kelelahan, bukan sakit serius. “Ibu kalau operasi dalam waktu dekat mau apa engga? Bu, tolong lakuin ini demi aku. Aku ngga minta aneh-aneh, aku Cuma mau Ibu operasi secepat mungkin. Aku mau Ibu sehat, normal kayaknya dulu. Key yakin kalau Ibu juga capek cuci darah setiap minggunya.” Kening Airin mengerut mendengar jawaban yang Keyra lontarkan. Pembahasan ini bukan yang pertama kali. Entahlah Airin tidak mengerti yang ada di dalam otak anaknya. Sebetulnya keinginan Keyra tidak ada yang salah, hanya saja baginya fikiran itu terlalu jauh. Seandainya pun bisa, lebih baik dikesampingkan untuk hal yang lebih berm

