Hari ini pekerjaan Keyra sedikit berantakan. Sejak pagi dia benar-benar tidak bisa fokus. Selain memikirkan nasibnya dengan Rafael, perasaan Keyra juga sangat tidak enak. Entah ada apa, yang jelas ada yang mengganjal di hati. Keyra menarik tangannya dari keyboard, lalu dia mengambil ponsel yang berada tak jauh dari jangkauannya. Bukan Rafael, melainkan Keyra menelepon Airin. Pasalnya sejak kemarin ibunya terlihat kurang sehat, lebih banyak berbaring di atas kasur. Niatnya hari ini Keyra tidak mau masuk ke kantor, tetapi Airin tidak memperbolehkan. Tiga kali Keyra mencoba menghubungi, namun tidak ada respon. Untuk beberapa saat Keyra mencoba menunggu, lalu dia kembali menelepon. Sialnya, tetap tidak ada jawaban. “Keadaan Ibu gimana ya?” guman Keyra khawatir. Sedang gelisah-gelisahnya sua

