"Sayang, aku kebelet. Aku ke kamar mandi dulu, ya!" "Ets! Tidak bisa!" Wajah Dirga memelas. "Tapi...." "Diam disini atau aku panggil ayah dan Ziva," pungkas Zia langsung membuat Dirga bungkam. Sekali lagi. Dirga mengepal, menahan amarahnya yang hampir membludak. Namun ia tahan demi bayinya. Bayinya? Ya, setelah bisikan dan rayuan maut tadi. Akhirnya disinilah Dirga sekarang. Di depan kamar mereka dengan pakaian aneh yang menempel di tubuhnya. Zia memaksa Dirga memakai baju yang dia bawa dari Indonesia. Meminta pria itu berdiri di depan kamar utama dan mengabsen semua orang yang hadir melewatinya. Entah ngidam macam apa itu! Yang jelas Dirga sangat kesal saat ini. Pada Sekertaris Lee yang menyiapkan baju itu, juga pada putranya sendiri yang membuat dia menjadi aneh seperti ini. Jika

