Setelah membekap Ziva, Dirga kembali ke rumahnya. Rumah yang selalu sepi ketika ia pulang dan ramai ketika ia berangkat. "Bunda! Bunda dimana?" Qeela mengigau. Dirga mengusap dahi putrinya panas. Qeela memang sering sakit dan mengigau semenjak kepergian Zia. "Apa kau sudah berikan obatnya?" "Sudah, Tuan. Saya sudah memberinya obat. Tapi panas nona Qeela tetap tinggi," jawab sang baby sister yang tidak lain adalah Lia. Lia kelimpungan. Mengusap dan melakukan apapun agar Qeela kembali tenang dan sehat. Gadis itu bahkan sampai menggenggam dan menciumi tangan Qeela. Sedang Dirga hanya diam, memperhatikan. "Kau yakin sudah memberikan obatnya? Bukankah kau menyembunyikannya dari putriku?" Lia melirik, "Maksud anda, Tuan?" Dirga berdecih. Ia pikir Lia benar-benar tidak mengetahui apapun t

