Zenia menarik tangan Matteo tanpa banyak bicara. Langkahnya cepat, seolah takut kalau Matteo berubah pikiran dan memilih kembali ke vila. Matteo sempat terkejut, tapi tidak menolak. Ia membiarkan dirinya diseret menyusuri pasir menuju sebuah restoran kecil yang berdiri tepat di tepi pantai, lampu-lampu kuningnya sudah menyala, memantul di permukaan laut yang mulai gelap. “Kamu lapar banget, ya?” tanya Matteo sambil tersenyum. Zenia menoleh dengan mata berbinar. “Banget. Dari tadi aku cuma mikirin makan.” Matteo tertawa kecil. “Kamu tadi lari-larian, pasti capek.” “Aku capek bahagia,” jawab Zenia cepat. Matteo terdiam sesaat, lalu mengangguk. “Kalau begitu kita makan.” Mereka masuk ke restoran. Suasana hangat langsung menyambut. Aroma seafood panggang bercampur angin laut membuat Zeni

