Pintu lift terbuka perlahan. Matteo melangkah keluar dengan langkah tegas, jasnya rapi, wajahnya dingin seperti biasa. Suara sepatu kulitnya menggema di lantai marmer kantor yang masih lengang pagi itu. Di balik meja sekretaris, Zoya yang sejak tadi memperhatikan pantulan lift di kaca dinding langsung berdiri. Tangannya refleks merapikan rambut, menarik sedikit bahu blusnya agar jatuh sempurna, lalu mengambil napas kecil sebelum melangkah maju. “Selamat pagi, Tuan Matteo.” Suaranya lembut, sedikit rendah, mengalir halus. Matteo menghentikan langkahnya. Ia menoleh, menatap sekretaris barunya itu sebentar lalu mengangguk singkat. “Pagi.” Zoya tersenyum tipis. Senyum yang tidak terlalu lebar, tapi cukup lama untuk tertangkap mata. “Apakah perjalanan Anda lancar pagi ini?” tanyanya, sua

