Pagi itu lobi perusahaan Ancelotti sudah ramai. Pegawai berlalu-lalang dengan langkah cepat, sebagian berhenti sejenak ketika pintu putar di depan terbuka. Zoya melangkah masuk. Sepatu haknya berdenting pelan di lantai marmer. Pakaian kerjanya masih sama seperti kemarin, rapi tapi jelas lebih berani dibanding pegawai lain. Potongannya pas di tubuh, bagian leher terbuka seperlunya, cukup untuk menarik perhatian tanpa terlihat murahan. Rambutnya tergerai rapi, wajahnya tenang, senyumnya tipis. Beberapa pasang mata mengikuti langkahnya. Zoya tahu itu. Ia menikmati setiap detiknya. “Selamat pagi, Mbak Zoya,” sapa satpam dengan sopan. “Pagi,” jawab Zoya lembut. Dalam hatinya, ia tertawa kecil. “Lihatlah,” batinnya. “Tak satu pun dari kalian tahu siapa aku sebenarnya.” Lift terbuka. Zo

