Pagi itu udara di kota masih terasa dingin ketika Zenia berdiri di depan cermin dapurnya. Rambutnya diikat sederhana, gaun panjang berwarna krem membalut tubuhnya dengan rapi. Di atas meja, rantang bertingkat yang baru saja ia tutup rapat masih mengepulkan uap hangat. Masakan kesukaan Matteo. Semua ia siapkan sendiri, tanpa bantuan siapa pun. Zenia menarik napas panjang, menatap bayangannya sendiri. “Aku cuma mau makan siang… cuma itu,” gumamnya pelan, seolah meyakinkan dirinya sendiri. Namun di balik ketenangan wajahnya, ada harapan yang tumbuh diam-diam. Ia membayangkan Matteo tersenyum saat melihatnya datang, memanggil namanya dengan nada yang hangat. Bayangan itu membuat sudut bibirnya terangkat tanpa sadar. Di tempat lain, di gedung tinggi milik Matteo, suasana kantor sudah mulai

