Suasana rumah yang tadinya tenang berubah kacau hanya dalam hitungan detik. Matteo yang baru turun dari lantai dua bersama Zenia menghentikan langkahnya begitu melihat seorang wanita berdiri di ruang tamu, mengenakan mantel mahal dan kacamata hitam yang ia tarik turun perlahan. Wajah wanita itu tajam, dingin, dan jelas menilai. Zenia menelan saliva keras-keras. “Carla…” gumam Matteo dengan suara berat. Carla—adik angkat mendiang Carlo—menatap tajam pada Matteo terlebih dulu sebelum menggeser pandangannya ke Zenia, mengiris seperti pisau. “Jadi ini,” ujar Carla sinis, “perempuan muda yang sekarang tinggal di rumah kakakku.” Zenia memaksakan senyum kecil yang bahkan tidak sampai ke matanya. “Selamat datang, Tante Carla.” Carla mengangkat alis. “Tumben kau sopan.” Matteo langsung berdi

