Matteo duduk tegak di kursi kerjanya, berkas-berkas laporan keuangan terbuka rapi di atas meja. Sejak pagi ia benar-benar fokus. Angka demi angka ia periksa, catatan audit ia telusuri, dan beberapa laporan yang selama ini tertunda akhirnya ia sentuh kembali. Tangannya bergerak cepat menandai halaman, alisnya mengerut setiap menemukan kejanggalan kecil. Pintu ruang kerja terbuka tanpa ketukan. Seorang wanita melangkah masuk dengan langkah anggun, sepatu haknya beradu pelan dengan lantai marmer. Matanya langsung tertuju pada Matteo. Ia tersenyum tipis, lalu berjalan mendekat tanpa ragu. Dalam satu gerakan yang membuat Matteo terkejut, wanita itu duduk di atas paha Matteo. “Giana, turun,” kata Matteo cepat, nadanya dingin dan tegas. Giana terkekeh kecil, seolah menganggap itu candaan. “Sa

