Zenia berdiri di depan kalender yang tergantung rapi di dinding kamar. Jarinya berhenti pada satu tanggal yang telah ia lingkari sejak beberapa hari lalu. Tiga bulan. Sudah tiga bulan sejak Carlo Ancelotti pergi untuk selamanya. Lelaki yang pernah menjadi suaminya, sekaligus Papa dari Matteo. Napas Zenia terasa lebih berat dari biasanya. Ia menoleh ke arah tempat tidur. Matteo masih terlelap, wajahnya tenang, rambutnya sedikit berantakan. Dalam tidur pun, garis wajahnya tampak tegas. Zenia memandangi lelaki itu beberapa saat, ada rasa asing sekaligus hangat yang bercampur di dadanya. Zenia melangkah mendekat, duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur, menyentuh bahu Matteo dengan lembut. “Matteo,” panggilnya pelan. Matteo bergerak sedikit, mengerang lirih. “Hm…” “Bangun,” ujar Zenia le

