Matteo membaringkan Zenia dengan gerakan lembut di atas meja kerjanya yang luas, permukaan kayu gelap terasa hangat di punggung telanjang Zenia yang kini mulai tersentuh. Aroma cendana dan kertas-kertas penting bercampur dengan wangi parfum Zenia yang samar, menciptakan pusaran indera yang memabukkan. Gaun sutra tipis yang Zenia kenakan perlahan melorot dari bahunya, ditarik oleh jemari Matteo yang cekatan, namun penuh hormat. Kain itu meluncur ke bawah pinggangnya, membebaskan payudaranya yang penuh, lalu terus turun, menampakkan lekuk pinggulnya yang sensual, hingga akhirnya teronggok di sekitar pergelangan kakinya seperti kelopak bunga yang layu. Zenia kini terhampar telanjang di hadapannya, kulitnya berkilau lembut di bawah cahaya remang dari lampu meja yang redup. Matteo menatapnya,

