Matteo semakin hari semakin menunjukkan sikap protektif yang berlebihan. Awalnya Zenia mengira itu hanya bentuk perhatian biasa. Namun lama-kelamaan, ia mulai merasa ada sesuatu yang berubah, sesuatu yang membuat napasnya sesak tanpa ia sadari. Pagi itu, Zenia sedang duduk di ruang tamu sambil menatap ponselnya. Notifikasi berdatangan. Undangan makan siang, undangan pesta kecil, dan ajakan minum teh dari teman-teman sosialitanya yang sudah lama tidak ia temui. Zenia tersenyum kecil. Sudah lama rasanya ia tidak keluar rumah tanpa bayangan Matteo di belakang punggungnya. Matteo keluar dari ruang kerja, matanya langsung tertuju pada ponsel yang ada di tangan Zenia. “Kamu sedang apa?” tanya Matteo sambil berjalan mendekat. Zenia mengangkat wajahnya. “Lihat pesan. Ada undangan makan siang

