Zenia duduk di sofa ruang tamu, membolak-balik ponselnya dengan wajah kesal namun pasrah. Grup pertemanan sosialitanya—kelompok perempuan glamor yang sejak dulu selalu ikut campur dalam urusan pribadinya—terus mengirim pesan beruntun. Nama-nama lelaki kaya, pewaris perusahaan, investor muda, sampai duda keren beranak satu, semuanya dilemparkan ke dalam percakapan seakan Zenia sedang mengikuti lelang pasangan. “Ayo Zenia, kau harus move on.” “Zenia, lelaki ini baru kembali dari Swiss, katanya tertarik padamu.” “Aku punya kenalan dokter bedah tampan, mau kukenalkan?” “Zenia, kapan kau mau keluar dan bertemu yang baru?” Notifikasi masuk setiap detik. Layarnya terus menyala, dan Zenia makin pening. Ia mengembuskan napas, hendak membalas sesuatu, namun sebuah bayangan besar muncul di samp

