Matteo baru saja menutup panggilan ketika rahangnya mengeras. Ponsel di tangannya bergetar pelan karena genggaman yang terlalu kuat. Urat di pelipisnya menonjol, napasnya berat dan tidak teratur. Zenia yang sejak tadi duduk di seberang meja langsung berdiri begitu melihat ekspresi itu. “Ada apa?” tanya Zenia, suaranya waspada. Matteo tidak langsung menjawab. Ia meletakkan ponsel di atas meja dengan bunyi cukup keras. “Carla,” katanya akhirnya, suaranya rendah tapi penuh tekanan. Zenia menelan ludah. “Kenapa dengan Carla?” “Dia kabur.” Dunia seolah berhenti berputar sesaat. Zenia terpaku, matanya membesar. “Kabur? Dari penjara?” Matteo tertawa pendek, tapi sama sekali tidak terdengar lucu. “Dari mana lagi? Dari hotel bintang lima?” Zenia mendekat. “Tidak mungkin. Bukankah keamananny

