Bandara itu ramai, dipenuhi suara pengumuman penerbangan yang bersahutan. Orang-orang berlalu-lalang dengan koper dan ransel, wajah-wajah lelah bercampur antusias. Di salah satu sudut ruang tunggu internasional, Carla duduk dengan tubuh sedikit membungkuk, topi lebar menutupi sebagian wajahnya, kacamata hitam besar bertengger di hidungnya. Di pangkuannya, sebuah tas tangan mahal yang kini terlihat lusuh karena terlalu sering berpindah tangan. Di dalam tas itu, tersimpan paspor baru, identitas baru, dan tiket sekali jalan menuju Thailand. Carla menarik napas panjang, jantungnya berdebar keras. “Akhirnya,” gumamnya pelan. “Sedikit lagi.” Seorang pria duduk di kursi sebelahnya. Wajahnya biasa saja, tapi matanya tajam. Dialah orang suruhan Carla yang setia sejak lama. “Penerbangan kamu bo

