Carla melangkah tertatih keluar dari gudang tua yang bau oli dan karat. Wajahnya kini dipenuhi kerutan palsu, pipinya tampak cekung, alisnya digambar turun, dan rambutnya ditutup kain kusam. Pakaian lusuh yang sengaja ia pilih membuat tubuhnya tampak ringkih seperti pengemis tua yang hidup dari sisa-sisa belas kasihan orang lain. Bahkan ketika ia menatap pantulan samar di kaca mobil rongsok di pinggir jalan, Carla sendiri tercekat. “Aku bahkan tak mengenali diriku,” gumamnya pelan, suara dibuat serak. Perutnya melilit hebat. Sudah hampir dua hari ia hanya bertahan dari roti kering dan air hujan. Tangannya gemetar menahan lapar, tapi matanya tetap tajam, penuh perhitungan. Carla tidak boleh lengah. Matteo ada di mana-mana. Atau setidaknya, orang-orang Matteo. Ia melangkah keluar ke jalan

