Matteo berdiri di sisi ranjang dengan kedua tangan bersedekap, menatap sinis pada gumpalan bulu putih hitam yang kini nyaman berada di atas seprai mereka. Anjing kecil itu meringkuk santai di dekat bantal Zenia, seolah ranjang itu memang miliknya sejak awal. Pemandangan itu membuat rahang Matteo mengeras. Ini benar-benar di luar dugaan. Ia setuju membeli anjing, tapi tidak pernah membayangkan akan berbagi ranjang dengan seekor makhluk berbulu yang baru mereka kenal beberapa jam lalu. Zenia justru tampak sangat puas. Ia duduk bersila di atas ranjang, mengelus kepala anjing kecil itu dengan penuh kasih, wajahnya berbinar seperti anak kecil yang mendapatkan mainan impian. Sesekali ia tertawa kecil ketika anjing itu menjilat jarinya atau menggeliat manja. Baginya, ini terasa hangat, terasa se

