Nadira tetap berdiri di depan masjid. Dirinya tak punya keberanian untuk masuk ke dalam. Padahal waktu berbuka masih satu jam lagi, tentu berdir di depan Masjid akan membuat kedua kakinya terasa mau patah. Masih ada beberapa orang yang datang terlambat juga. Meeka melirik ke arah Nadira. Kebetulan Nadira tidak mengenal mereka. Mungkin mereka datang dari kampung lain. Sejenak, Nadira bersandar pada salah satu dinding sebagai tiang bangunan. Suara lelaki itu mulai menghilang dan tergantikan suara lain yang mengalunkan baik -baik Al Quran. Ahh ... tenang banget rasanya. Kenapa hati Nadira terasa adem mendengar itu. Ia memejamkan kedua matanya sambil mendengarkan tadarusan. Nadira teringat dulu saat Ayahnya masih ada. Ayahnya sellau mengajarkan Nadira mengaji hingga Nadira bisa khatam tepat

