“M-mas … kalau Mas Andra kabur gini, apa akan membahayakanku?” tanyaku di tengah-tengah perjalanan pesawat. Kami baru saja take off kisaran lima belas menit yang lalu. Sejak naik pesawat sampai detik ini, aku masih terus kepikiran dengan berita yang Mas Rivan dapat dari Akmal. Mas Andra kabur. Dia memang lebih pengecut dari pengecut. Ke mana perginya keberanian yang dia tunjukkan ketika mencengkram rahangku sampai sakit? Ke mana pula makian yang pernah dia lontarkan tepat di depan wajahku sampai ludahnya muncrat? Giliran sudah masuk penyelidikan polisi, dia malah menghilang. Tak sebanding dengan lagaknya ketika menyekapku. Sesama gay pun sepertinya malu memiliki anggota sepertinya. “Kalau membahayakanmu dalam waktu dekat, jelas enggak. Andra pasti kaburnya jauh, entah ke mana. Janganka