“Weekend ini main ke rumah, ya, Mil …” ujar Mas Rivan yang membuatku langsung menoleh. Mie yang sempat kusumpit, seketika kuletakkan kembali. Mataku mengerjap, alisku juga terangkat. Aku tidak salah dengar? “Weekend ini banget, Mas? Mas udah bilang semua sama Pak Danu dan Bu Rara?” Mas Rivan mengangguk. “Udah. Bener-bener udah semua. Aku udah bilang sejak minggu lalu, malah.” Aku menegakkan badan. Tanganku terangkat dan menyentuh d**a bagian kiri. Aku memejamkan mata, merasakan jantung yang langsung berdetak sangat cepat. “Jujur, aku mendadak deg-degan banget. Harusnya ini yang kutunggu, tapi kaya tiba-tiba belum siap. Gimana, Mas?” “Enggak bisa ditunda lagi, Mil. Aku takut kamu ngambek soalnya.” Aku tersenyum. “Sebenarnya bukan ngambek juga, sih, waktu itu—” “Lalu apa? Enggak ngam