“Mila, buka pintunya, Mil! Kamu masih di dalam, kan? Mila!” Aku tersentak ketika pintu toilet diketuk dari luar. Aku juga tersadar dari lamunanku. Itu suara Mas Rivan. Nafi pasti sudah memberi tahu apa yang baru saja kualami. “Mila! Buka, Mil! Kalau enggak dibuka juga, akan kudobrak!” Aku segera bangkit dan mengusap air mataku sampai benar-benar bersih. Setelah cukup, aku langsung keluar. “Gimana, Mas—” kalimatku terputus saat Mas Rivan langsung memelukku erat. Aku juga mendelik karena jelas-jelas ada Nafi dan Mas Kian, pasutri gaje yang sampai detik ini aku tak paham bagaimana konsep pernikahan mereka. “M-mas, itu ada Nafi sama Mas Kian. Malu ….” Mas Rivan menoleh. “Kalian mau tetap di sini dan menonton kami?” “A-ah, maaf, maaf. Kami pergi sekarang.” Nafi dan Mas kian keluar dari r