Tidur, tidur, dan tidur. Sepanjang hari yang Ara lakukan hanyalah tidur. Lihatlah, dia bahkan tak terganggu sama sekali ketika aku menyentuh hidungnya berkali-kali. Memang benar, dia begitu karena aku. Selain efek jet lag yang sebenarnya belum sepenuhnya hilang, dia juga kelelahan karena meladeniku yang tak tahu diri ini. Dari pagi Ara bangun hanya untuk sesuatu yang penting-penting saja. Begitu selesai, dia langsung kembali meringkuk di dalam selimut. Bahkan iming-iming ke Appenzell pun sudah tidak dihiraukannya lagi. “Ra, ayo bangun. Udah jam tiga sore.” Aku semakin gencar saja mengganggunya. Sedari tadi aku bosan karena ditinggal tidur Ara. Mana tidurnya kali ini benar-benar seperti orang pingsan. Benar kata Ibu, Ara kalau sedang kelelahan akan tertidur sangat pulas dan sulit diban

