Diwangga menghampiri meja Yudistira dengan langkah ringan, wajahnya dipenuhi senyum kepuasan. Vanessa telah pergi beberapa menit lalu, dan meninggalkan Yudistira di sana seorang diri. “Papa senang melihat kamu dan Vanessa akhirnya bisa berbicara dengan baik. Sepertinya kalian telah mencapai kesepakatan, ya?” Yudistira menatap ayahnya dengan dingin. “Papa sengaja tidak memberi tahu Vanessa bahwa aku sudah pernah menikah. Kenapa?” Diwangga berdecak, duduk di seberangnya. “Untuk apa mengungkit masa lalu yang tidak penting? Pernikahanmu dengan Amira sudah berakhir, dan itu tidak ada pengaruhnya untuk masa depanmu sekarang.” “Itu bukan jawaban, Pa.” “Yudis.” Suara Diwangga menjadi lebih tegas, “Kamu sekarang adalah Yudistira Kartanegara yang baru. Sukses, berkuasa, dan dihormati. Papa tida