Kirana menghela napas dalam-dalam, matanya masih tertuju pada pesan Yudistira yang membuat jantungnya berdebar kencang. “Aku harus cari alasan yang meyakinkan,” batinnya. Dia turun dari ranjang dan melangkah ke lemari, mencari pakaian ganti. Menggigit bibirnya, Kirana tampak kebingungan hendak memakai apa. Akhirnya dia menyambar kaus dan celana jeans-nya. Kirana memilih mandi terlebih dahulu. Dia harus bersih dan wangi bila ingin bertemu dengan pria itu, karena biasanya mereka menghabiskan waktu sepulang kerja yang membuat dirinya tidak memiliki waktu untuk bersiap. Dan, tentunya dia sedikit malu. Selesai mandi dan berpakaian dia berjalan keluar kamar menuju ruang keluarga, di mana orang tua dan Amira masih asyik mengobrol. “Ayah, Ibu, ada temen kos yang sakit mendadak. Aku mau balik