Sinta membuka pintu rumahnya dan mendapati Dirga bersandar pada mobilnya, tampak sedang memeriksa ponsel dengan ekspresi datar. “Ngapain di sini?” tanyanya pendek, nada suara tidak terlalu ramah. Dirga menatapnya, sedikit mengernyit. “Antarkan saya ke apartemen Yudis. Jam tujuh ada acara makan malam dengan keluarga calon istrinya, tapi sejak pagi dia tidak menjawab telepon Papa.” Sinta memutar bola matanya. “Tunggu sebentar,” ujarnya singkat sebelum berbalik dan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Dirga di luar. Di dalam, Panca yang sedang duduk di ruang santai menatapnya penuh tanya. “Dirga yang datang? Kenapa tidak disuruh masuk?” “Biarin aja dia di luar,” balas Sinta tanpa menoleh, langkahnya terus menaiki tangga menuju kamarnya. Panca menghela napas, lalu berjalan ke teras. “Dirga