Bab 37

1120 Kata

Kicau burung terdengar ramai dari jendela terbuka ruang kelas. Matahari pagi menyelinap masuk di antara daun jendela kayu, menebarkan bayangan lembut di lantai papan yang mengilap. Kaylana berdiri di depan papan tulis, kapur putih di tangannya. “Jadi, siapa yang tahu mengapa bunga matahari selalu menghadap matahari?” tanyanya dengan senyum sabar. Beberapa tangan kecil terangkat. Suara ramai anak-anak membuat ruangan penuh kehidupan. Aurelia duduk di bangku depan, mengangkat tangannya tinggi-tinggi, tapi bukan itu yang mencuri perhatian Kaylana hari ini. Di pojok ruang kelas, duduklah pria itu—Virion, dengan topi sederhana dan kemeja lengan panjang. Ia menjadi relawan harian, membantu mengganti papan, mengangkat air minum, membenahi meja rusak—semua hal kecil yang membuatnya diterima ta

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN