Pagi itu, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Kaylana berdiri di beranda rumahnya, memandangi kabut yang perlahan-lahan menyingkir dari pepohonan. Di tangannya, amplop dari Clarisse belum terbuka. Ia belum berani. Belum siap. Tapi di dalam hatinya, gejolak itu tak bisa diredam lagi. Setelah mengantar Aurelia ke sekolah, Kaylana tidak langsung kembali. Ia mengambil jalan memutar, melangkah ke bangunan tua yang sudah lama tak ia datangi—arsip desa. “Madame Kaylana,” sapa penjaga tua yang mengenalnya. “Mencari sesuatu?” “Catatan penduduk. Lima... enam tahun terakhir,” jawabnya pelan. Ia menelusuri lembar demi lembar, sampai matanya menangkap nama yang membuat jantungnya berhenti sesaat: > Nom: Virion Profession: tidak tercatat. Identité: Inconnu. Catatan: Pendatang dari Marseil

