Sudah tiga hari sejak pertemuan pertamanya dengan Aurelia di taman. Tiga hari juga sejak ia menyelinap ke rumah Kaylana, mencuri sehelai rambut untuk dikirim diam-diam ke laboratorium kenalannya di Marseille. Dan selama itu pula, Virion tetap memainkan peranannya—sebagai penulis yang tak banyak bicara, tetapi sering terlihat di sekitar taman, pasar, dan sekolah kecil desa. Pagi itu, langit sedikit berawan, namun hangat. Aroma roti panggang menyebar dari toko boulangerie di ujung jalan. Di bangku kayu depan penginapan, Virion sedang duduk ketika suara langkah kecil menghampirinya. “Tu es encore ici?” tanya Aurelia sambil menyodorkan sepotong croissant dalam kertas minyak. “Kau sudah belajar bahasa Prancis dengan baik,” jawab Virion sambil tersenyum—meski senyum itu tersembunyi di balik t

