Hujan baru saja reda. Embun sisa menyelimuti bunga-bunga liar yang tumbuh di pinggir jalan desa. Langit berwarna kelabu, menambahkan kesan tenang yang menyelimuti pagi itu. Kaylana sedang menjemur cucian di belakang rumah saat suara kecil memanggilnya. “Maman! Ada tamu di depan,” seru Aurelia dari balik pintu. Kaylana mengernyit. Jarang sekali ada tamu datang pagi-pagi begini. Ia mengelap tangannya pada apron dan berjalan ke teras depan. Seorang pria berjubah hitam berdiri di ujung pagar kayu. Tubuhnya tinggi, tegap, dan wajahnya tertutup topeng logam berwarna gelap. Ia tak bergerak, hanya menunduk sedikit ketika mata mereka bertemu. “Bonjour,” sapa Kaylana hati-hati. “Ada yang bisa saya bantu?” Pria itu tak langsung menjawab. Ia membuka selembar kertas dari saku jubahnya dan mengulur

