Pagi itu, desa Saint-Laurent sur Mer diselimuti embun tipis. Liana memandangi hamparan kebun lavender dari belakang rumahnya, jemarinya menggenggam secangkir teh hangat yang aromanya mengambang pelan di udara dingin. Aurelia masih tertidur pulas di kamar atas. Clarisse sedang mengaduk bubur oat di dapur, suara sendoknya bersahut dengan kicauan burung pipit di atap rumah. Namun Liana tak fokus pada apapun pagi itu. Pikirannya kembali pada secarik kertas yang ia temukan malam sebelumnya. Tulisan tangan itu. Kalimatnya. Getaran dalam dirinya. Ia tidak bermimpi—ia tahu pasti siapa yang menulisnya. Virion masih hidup. Dan ia mencarinya. Tapi mengapa sekarang? Dan… bagaimana ia menemukan mereka? --- Setelah mengantar Aurelia ke sekolah, Liana menyusuri jalan setapak di tepi ladang. Ia ber

