Hari itu pasar desa lebih ramai dari biasanya. Cuaca mulai menghangat, dan aroma manis dari gula karamel yang meleleh di atas wajan besi memenuhi udara. Liana menggandeng tangan Aurelia sambil menyusuri deretan kios berwarna-warni. "Ma, lihat! Ada boneka kelinci pakai syal!" seru Aurelia, menunjuk ke sebuah lapak mainan rajut. “Nanti kita mampir, ya. Sekarang kita beli bahan sup dulu.” Mereka berhenti di depan kios sayur milik Henri dan istrinya. Saat Liana tengah memilih wortel, sesuatu—atau seseorang—menabraknya dari sisi kanan. Tubuhnya terdorong ringan. “Ah, maaf—” ucap Liana cepat, sambil menoleh. Sosok yang menabraknya mengenakan jubah hitam panjang dengan kerah tinggi. Wajahnya tertutup sebagian oleh topeng logam tipis berwarna abu perak. Tudung besar menutupi rambut dan sebagi

