Udara pagi di Desa Saint-Laurent terasa segar. Aroma tanah yang basah setelah hujan malam tadi menyatu dengan wangi adonan roti panggang dari rumah-rumah batu yang berjajar rapi. Kaylana, mengenakan blus putih dan rok panjang berwarna krem, berdiri di teras kecil rumahnya, menyapu daun-daun yang jatuh di jalan setapak. Di dalam rumah, suara Aurelia terdengar memanggil dengan nyaring. “Maman! Aku nggak bisa ngekepin kancing bajuku!” seru bocah empat tahun itu dalam bahasa campuran Prancis dan Indonesia yang unik. Kaylana tersenyum. “Datang ke sini, sayang,” jawabnya lembut. Aurelia berlari keluar sambil membawa kardigan merah mudanya. Pipi bulatnya masih menyisakan bekas bantal. Kaylana menunduk, mengancingkan baju putrinya satu per satu, lalu membelai rambut panjang anak itu yang sudah

