Pagi itu, awan menggantung rendah. Udara dingin dari pegunungan membuat aroma kopi yang mengepul dari cangkir tanah liat Kaylana terasa lebih tajam, lebih menghidupkan. Ia duduk di serambi, mengenakan cardigan abu-abu yang sudah mulai berbulu di ujung lengan, sementara Aurelia duduk di bawah, berusaha memasang sepatu bot kuning miliknya sendiri. "Yang kiri buat kaki kiri, sayang." "Aku tahu, Mama. Tapi kakiku kayaknya lagi bertengkar." Kaylana menahan tawa, menyeruput kopi hangatnya. “Mungkin mereka butuh diplomasi.” “Diplomasi itu yang suka Papa Jules ngomongin di toko roti?” tanya Aurelia polos. Kaylana mengangguk sambil tersenyum. “Benar. Tapi kakimu cukup salaman aja dulu.” Mereka menuju pasar mingguan yang diadakan di alun-alun kecil desa. Penduduk desa sudah mulai ramai menata

